Satu Dokter Tangani 200 Lebih Korban Gempa di Tengah Keterbatasan Obat

  • 18 Agt 2026 07:50 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Timur - Di tengah kepanikan akibat gempa bumi, seorang dokter di Puskesmas Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), harus menangani lebih dari 200 pasien di posko darurat dengan keterbatasan tenaga medis dan obat-obatan.

Dokter Umum Puskesmas Dampek, Melinda Bella (28), mengatakan, kondisi tersebut terjadi setelah gempa kuat mengguncang wilayah itu. Saat peringatan tsunami dikeluarkan, ia bersama warga dan tenaga kesehatan lainnya menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi.

Dalam kondisi tersebut, dr. Melinda hanya sempat membawa stetoskop. Ia kemudian mulai memeriksa pasien yang berdatangan ke lokasi pengungsian, sementara peralatan dan obat-obatan medis tidak tersedia secara memadai.

“Waktu di gunung kami semua hanya membawa diri. Saya hanya berlarian dengan stetoskop saya,” ujar Melinda saat ditemui di Posko Kampung Damer, Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur, Senin 17 Agustus 2026.

Menurutnya, korban yang datang ke lokasi pengungsian mengalami berbagai luka akibat tertimpa reruntuhan. Sejumlah pasien mengalami luka berat, kesulitan bernapas, hingga patah tulang. Pasien anak-anak juga turut terdampak.

Setelah peringatan tsunami dicabut, warga dan pasien turun dari lokasi pengungsian dan mendirikan posko darurat. Di tempat itu, jumlah pasien terus bertambah hingga mencapai lebih dari 200 orang. Sebagian pasien berada dalam kondisi berat, bahkan terdapat pasien yang meninggal dunia.

“Pasien-pasien yang berdatangan sangat banyak dan lukanya sangat-sangat parah. Pada saat itu obat-obatan pun tidak bisa maksimal diberikan,” katanya.

Kondisi semakin berat karena Puskesmas Dampek turut mengalami kerusakan akibat gempa. Di sisi lain, sejumlah tenaga kesehatan, termasuk perawat dan bidan, juga ikut terdampak bersama keluarganya. Akibatnya, Melinda menjadi satu-satunya dokter yang harus menangani ratusan pasien di tengah situasi darurat.

“Kami hanya saya, dokter satu-satunya, menangani begitu banyak pasien sekitar ratusan sendiri, dibantu dengan nakes yang apa adanya, dengan keterbatasan obat-obatan,” ungkapnya.

Keterbatasan obat membuat tenaga kesehatan harus menggunakan persediaan yang tersisa secara sangat terbatas. Untuk pasien dengan luka terbuka yang cukup berat, misalnya, hanya tersedia satu ampul obat bius berisi dua cc. Obat tersebut kemudian dibagi agar dapat digunakan oleh lebih banyak pasien.

“Memang dosisnya sangat tidak mencukupi, tapi hanya itu yang bisa kami berikan untuk menyelamatkan pasien,” kata dr. Melinda.

Untuk pasien yang mengalami patah tulang, penanganan awal dilakukan dengan menggunakan bidai. Sementara pemberian infus dan pengobatan lainnya belum dapat dilakukan secara maksimal karena fasilitas puskesmas mengalami kerusakan dan persediaan obat terbatas.

Selain itu, dr. Melinda juga menyampaikan, kebutuhan di posko darurat tidak hanya berupa obat-obatan dan tenaga medis. Dukungan psikologis juga diperlukan karena banyak pasien, termasuk anak-anak, mengalami trauma setelah gempa dan situasi darurat yang mereka alami.

Dirinya berharap pemerintah dapat menambah tenaga dokter untuk membantu pelayanan kesehatan di wilayah tersebut. Menurutnya, kebutuhan tersebut sebenarnya sudah ada sebelum gempa karena wilayah pelayanan Puskesmas Dampek mencakup sekitar 17 ribu penduduk yang tersebar di delapan desa.

“Setidaknya dari Kemenkes bisa memberikan dokter lagi untuk di bagian sini, untuk tenaga Nusantara Sehat atau apa pun itu. Karena memang puskesmas ini sangat membutuhkan dokter,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....