Longsor dan Akses Sulit Hambat Operasi SAR Pascagempa di NTT
- 16 Agt 2026 07:32 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Barat - Proses penanganan dan pendataan korban pascagempa bumi di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) masih menghadapi kendala akses. Tim SAR harus melewati sejumlah titik yang terdampak longsor untuk menjangkau wilayah terdampak.
Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman, mengatakan akses menjadi salah satu kendala utama dalam pelaksanaan operasi SAR, terutama menuju wilayah Nagekeo yang menjadi salah satu daerah terdampak gempa.
“Untuk saat ini memang ada kendala yang kita hadapi, pertama akses menuju ke lokasi. Akses dari Maumere menuju ke Nagekeo di titik awal gempa tersebut, dan juga banyak terjadinya longsoran-longsoran,” ujar Fathur saat ditemui di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Sabtu 15 Agustus 2026.
Meski demikian, berdasarkan hasil pemantauan tim di lapangan, akses dari Ende menuju Nagekeo saat ini sudah dapat dilalui. Tim SAR juga telah diterjunkan untuk melakukan pendataan dan memastikan kondisi masyarakat terdampak.
Di Nagekeo, tim SAR telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah, termasuk Wakil Bupati Nagekeo. Dari pendataan sementara, tercatat satu korban meninggal dunia. Selain itu, sejumlah rumah dilaporkan mengalami kerusakan, baik kategori rusak berat maupun rusak ringan.
Kendala akses juga menjadi perhatian dalam operasi SAR di wilayah lain. Basarnas berencana memfokuskan operasi berikutnya di wilayah Manggarai dan Manggarai Timur, khususnya Reo. Kapal PUNTADEWA direncanakan bersandar di Reo untuk mendukung proses pencarian dan memastikan kondisi di wilayah tersebut.
Fathur juga mengatakan, proses evakuasi di Reo sebelumnya juga sempat menghadapi kendala ketika dua korban tertimbun. Evakuasi dilakukan menggunakan alat berat dan harus berlangsung secara hati-hati karena adanya kekhawatiran terhadap gempa susulan.
“Kita akan sandar di situ dulu untuk meyakinkan di daerah tersebut sudah tidak ada korban jiwa lagi,” katanya.
Hingga pukul 20.30 WITA, Fathur menyebut belum ada laporan mengenai warga yang hilang atau tertimbun. Meski demikian, pendataan masih terus dilakukan bersama pemerintah daerah, BPBD, PMI, dan potensi SAR lainnya.
Adapun guna mendukung operasi penanganan bencana, sekitar 281 personel SAR dari Basarnas dan berbagai potensi SAR telah dikerahkan ke sejumlah wilayah terdampak. Personel tersebut bergabung dalam posko-posko penanganan yang dibentuk di masing-masing kabupaten.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....