Godzilla El Nino 2026 Ancam Cuaca Ekstrem Indonesia

  • 25 Mar 2026 12:50 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende - Alam Indonesia diprediksi menghadapi kondisi tidak biasa sepanjang 2026. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merilis peringatan terkait kemunculan fenomena iklim ekstrem yang disebut sebagai “Godzilla” El Nino, yang diperkirakan berlangsung mulai April hingga Oktober 2026.

Fenomena ini merujuk pada El Nino dengan intensitas sangat kuat dan berskala besar. Kondisi tersebut semakin diperparah dengan kehadiran Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang terjadi secara bersamaan.

Menurut BRIN, kombinasi kedua fenomena tersebut berpotensi memicu musim kemarau yang lebih panjang, panas, dan kering di sebagian wilayah Indonesia. El Nino menyebabkan pembentukan awan dan curah hujan bergeser ke Samudra Pasifik, sementara IOD positif memicu pendinginan suhu permukaan laut di sekitar perairan dekat Pulau Jawa dan Sumatra.

Kondisi ini berdampak pada berkurangnya kelembapan udara yang masuk ke wilayah daratan Indonesia. Berdasarkan model prediksi BRIN, periode April hingga Juli 2026 menjadi fase paling kritis, terutama bagi wilayah Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara Timur yang diperkirakan mengalami kemarau ekstrem.

Namun, dampak fenomena ini tidak merata. Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menjelaskan bahwa wilayah timur Indonesia justru menghadapi kondisi berbeda.

“Wilayah Sulawesi, Halmahera, dan sebagian besar Maluku diperkirakan masih mengalami curah hujan tinggi. Ini merupakan anomali yang perlu diwaspadai,” ujarnya Selasa, 24 Maret 2026.

Perbedaan kondisi tersebut memunculkan potensi risiko yang beragam di berbagai daerah. Di wilayah Jawa, ancaman kekeringan berpotensi mengganggu produksi pangan, terutama di kawasan lumbung beras nasional seperti Pantai Utara Jawa.

Sementara itu, wilayah Sumatra dan Kalimantan berisiko tinggi mengalami kebakaran hutan dan lahan apabila langkah pencegahan tidak segera dilakukan. Di sisi lain, wilayah Sulawesi dan Maluku justru dihadapkan pada ancaman bencana hidrometeorologi akibat curah hujan tinggi, seperti banjir dan tanah longsor yang dapat merusak permukiman dan infrastruktur.

BRIN mengimbau pemerintah untuk segera mengambil langkah mitigasi yang komprehensif dan terintegrasi. Upaya tersebut mencakup pengelolaan sumber daya air di daerah rawan kekeringan serta peningkatan kesiapsiagaan menghadapi banjir di wilayah dengan potensi hujan tinggi.

Masyarakat juga diminta mulai beradaptasi sejak dini. Di wilayah kering, penggunaan air secara bijak menjadi kunci. Sementara di daerah rawan hujan tinggi, warga diimbau membersihkan saluran drainase dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi longsor.

Fenomena “Godzilla” El Nino menjadi pengingat bahwa perubahan iklim kini semakin nyata dan berdampak langsung terhadap kehidupan. Kesiapsiagaan berbasis data dan tindakan cepat menjadi hal krusial untuk meminimalkan risiko yang ditimbulkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....