Psikiater: Trauma Ditandai Reaksi Tubuh terhadap Pemicu
- 28 Agt 2026 12:03 WIB
- Ende
Poin Utama
- Trauma tidak selalu berkaitan dengan peristiwa besar yang mengancam keselamatan jiwa.
- Psikiater, Dr. Jimmy Ardian, mengatakan trauma terjadi akibat sebuah peristiwa yang sudah berlalu.
- Menurutnya, respons takut terhadap ancaman nyata merupakan hal yang wajar dan tidak selalu menunjukkan adanya trauma.
- Namun, psikiater dapat menjadi pilihan ketika berbagai upaya yang dilakukan secara sadar untuk mengatasi reaksi tersebut terus mengalami kegagalan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Trauma tidak selalu berkaitan dengan peristiwa besar yang mengancam keselamatan jiwa. Reaksi tubuh ketika seseorang mengingat atau menghadapi pemicu tertentu dapat menjadi salah satu tanda adanya trauma.
Psikiater, dr. Jimmy Ardian, mengatakan trauma terjadi akibat sebuah peristiwa yang sudah berlalu. “Ketika peristiwa tersebut kembali diingat atau tercetus oleh sesuatu di masa kini dan tubuh memberikan reaksi, kondisi itu dapat berkaitan dengan trauma”, ujarnya dalam podcast Raditya Dhika pada, 3 September 2025.
Menurutnya, reaksi terhadap trauma dapat muncul dalam berbagai bentuk. Seseorang dapat memberikan respons dengan menyerang, melarikan diri, atau justru tidak mampu melakukan apa-apa atau freezing.
dr. Jimmy menjelaskan pentingnya membedakan kondisi terancam dengan kondisi triggered atau tercetus. Menurutnya, respons takut terhadap ancaman nyata merupakan hal yang wajar dan tidak selalu menunjukkan adanya trauma.
| Baca juga: Kenali Manfaat PRP untuk Kesehatan Kulit |
Sebaliknya, reaksi trauma dapat muncul ketika seseorang menghadapi sesuatu yang sebenarnya relatif netral. Contohnya, suara seseorang yang meninggi dapat memicu rasa seperti sedang dimarahi karena berkaitan dengan pengalaman masa lalu.
Ia menambahkan, tingkat berat-ringannya trauma tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya peristiwa yang dialami. Kondisi tersebut lebih dapat dilihat dari seberapa besar reaksi yang muncul dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Dr. Jimmy mengatakan masyarakat tidak harus menunggu trauma menjadi berat untuk mencari bantuan profesional. Namun, psikiater dapat menjadi pilihan ketika berbagai upaya yang dilakukan secara sadar untuk mengatasi reaksi tersebut terus mengalami kegagalan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....