Sesak dan Mudah Lelah Jangan Diabaikan, Bisa Jadi Tanda Gagal Jantung
- 28 Jul 2026 22:08 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Barat - Gagal jantung masih sering disalahartikan sebagai kondisi ketika jantung berhenti berdetak secara tiba-tiba. Padahal, gagal jantung merupakan penyakit kronis yang terjadi ketika kemampuan jantung memompa darah ke seluruh tubuh menurun, sehingga kebutuhan oksigen dan nutrisi organ-organ tubuh tidak terpenuhi secara optimal.
Hal itu disampaikan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan, dr. Rahima Ratna Juwita, dalam program Zona Edukasi RRI Labuan Bajo, Senin 27 Juli 2026. Menurutnya, pemahaman yang benar mengenai gagal jantung penting agar masyarakat dapat mengenali gejala sejak dini dan segera mendapatkan penanganan.
“Gagal jantung berbeda dengan serangan jantung. Serangan jantung terjadi karena adanya penyumbatan mendadak pada pembuluh darah jantung, sedangkan gagal jantung merupakan kondisi ketika fungsi pompa jantung sudah menurun. Meski demikian, serangan jantung yang menyebabkan kerusakan otot jantung dapat berkembang menjadi gagal jantung,” ujar dr. Rahima.
Ia juga mengatakan, banyak pasien baru datang berobat ketika kondisi penyakit sudah cukup berat. Padahal, terdapat sejumlah gejala awal yang perlu diwaspadai, seperti mudah lelah, sesak napas saat melakukan aktivitas ringan, serta pembengkakan pada kaki akibat penumpukan cairan.
Menurut dr. Rahima, risiko gagal jantung memang meningkat seiring bertambahnya usia. Namun, penyakit ini juga dapat dialami oleh kelompok usia muda akibat kelainan katup jantung, penyakit jantung bawaan, maupun riwayat infeksi yang memengaruhi fungsi jantung.
Selain itu, gaya hidup tidak sehat turut meningkatkan risiko terjadinya gagal jantung. Ia menyebut pola makan tinggi lemak dan garam, kebiasaan mengonsumsi minuman bergula, merokok, kurang tidur, hingga stres berkepanjangan menjadi faktor yang dapat memicu hipertensi, diabetes melitus, obesitas, hingga kerusakan pembuluh darah yang berujung pada gangguan fungsi jantung.
Guna memastikan diagnosis, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan, mulai dari wawancara klinis dan pemeriksaan fisik, elektrokardiogram (EKG), foto rontgen dada, hingga ekokardiografi atau USG jantung untuk menilai kemampuan pompa jantung.
Meski gagal jantung umumnya merupakan penyakit kronis, dr. Rahima menegaskan bahwa kualitas hidup penderita tetap dapat dipertahankan melalui kepatuhan mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter, disertai aktivitas fisik yang terukur seperti berjalan kaki, bersepeda santai, atau berenang. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga pola makan seimbang, rutin berolahraga, menghindari rokok, serta mengelola stres sebagai langkah utama mencegah penyakit jantung sejak dini.
“Jantung adalah investasi masa depan. Menjaga kesehatan jantung sejak usia muda merupakan langkah terbaik agar terhindar dari berbagai penyakit kardiovaskular di kemudian hari,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....