Istilah Teknis Komunikasi Radio dalam Sistem Analog yang Perlu Dipahami Teknisi
- 21 Jul 2026 23:03 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende – Dunia komunikasi radio memiliki berbagai istilah teknis yang digunakan oleh operator, teknisi, maupun penyelenggara layanan komunikasi. Penggunaan singkatan dan akronim tersebut bertujuan mempermudah komunikasi, mempercepat penyampaian informasi, serta mendukung pengoperasian perangkat radio secara efektif.
Salah satu istilah dasar adalah Audio Frequency (AF), yaitu rentang frekuensi suara yang dapat didengar manusia, sekitar 20 hingga 20.000 Hertz (Hz). Pada perangkat radio, istilah AF juga merujuk pada pengaturan volume audio.
Dalam sistem penerima radio terdapat Automatic Frequency Control (AFC) yang berfungsi menjaga penerima tetap berada pada frekuensi siaran, serta Automatic Gain Control (AGC) yang secara otomatis menyesuaikan penguatan sinyal agar tingkat suara tetap stabil meskipun kekuatan sinyal berubah.
Berdasarkan metode modulasi, komunikasi radio mengenal Amplitude Modulation (AM) dan Frequency Modulation (FM). Sistem AM mengirimkan informasi melalui perubahan amplitudo gelombang pembawa, sedangkan FM memanfaatkan perubahan frekuensi sehingga menghasilkan kualitas audio yang lebih jernih dan lebih tahan terhadap gangguan (noise).
Untuk meningkatkan kualitas penerimaan, radio juga dilengkapi berbagai fitur, seperti Automatic Noise Limiter (ANL) yang mengurangi gangguan impulsif, Audio Peak Filter (APF) yang mempertegas frekuensi tertentu, serta Filter yang menyaring sinyal agar lebih bersih.
Pada komunikasi radio dua arah dikenal istilah Push To Talk (PTT), yaitu tombol yang ditekan saat pengguna ingin mengirimkan suara. Ketika radio menerima sinyal, perangkat berada pada mode Receive (RX), sedangkan saat mengirim sinyal disebut Transmit (TX).
Fitur Squelch (SQL) digunakan untuk menutup keluaran audio ketika tidak ada sinyal yang diterima sehingga suara desis tidak terdengar. Selain itu, tersedia Continuous Tone-Coded Squelch System (CTCSS) dan Digital Coded Squelch (DCS) yang memungkinkan hanya radio dengan kode tertentu dapat saling berkomunikasi tanpa terganggu percakapan pengguna lain.
Komunikasi radio juga dibedakan berdasarkan rentang frekuensinya. Low Frequency (LF) berada pada kisaran 30–300 kilohertz (kHz), Medium Frequency (MF) pada 300 kHz hingga 3 megahertz (MHz), High Frequency (HF) pada 3–30 MHz, Very High Frequency (VHF) pada 30–300 MHz, Ultra High Frequency (UHF) pada 300 MHz hingga 3 gigahertz (GHz), serta Super High Frequency (SHF) pada 3–30 GHz.
Perkembangan teknologi turut menghadirkan Software Defined Radio (SDR), yaitu sistem radio yang sebagian besar fungsi pemrosesan sinyalnya dijalankan melalui perangkat lunak. Teknologi ini menawarkan fleksibilitas lebih tinggi dibandingkan radio konvensional karena konfigurasi dapat dilakukan tanpa banyak perubahan perangkat keras.
Selain itu, terdapat teknologi khusus seperti Global Maritime Distress and Safety System (GMDSS) untuk komunikasi keselamatan pelayaran, Voice Operated Exchange (VOX) yang memungkinkan radio memancar secara otomatis saat mendeteksi suara, serta Wide Frequency Modulation (WFM) yang digunakan untuk transmisi audio berkualitas tinggi.
Pemahaman terhadap istilah-istilah tersebut menjadi kompetensi penting bagi operator, teknisi, maupun praktisi penyiaran dan komunikasi radio. Penguasaan terminologi teknis tidak hanya meningkatkan efektivitas operasional, tetapi juga mendukung keselamatan, keandalan, dan kualitas layanan komunikasi radio.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....