Pulang untuk Selamanya, Jejak Pengabdian drh. Alfonsius di Tanah Papua
- 15 Sep 2026 13:02 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Sikka – Tanah kelahiran akhirnya kembali menerima putranya. Sabtu, 12 September 2026, Bandara Frans Seda Maumere tidak sekadar menjadi tempat kedatangan sebuah pesawat.
Siang itu, bandara menjadi saksi kepulangan terakhir drh. Alfonsius Albinus Mehan, seorang dokter hewan aparatur sipil negara (ASN) yang gugur setelah menjadi korban penembakan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua.
Pesawat Casa milik Polri bernomor registrasi 212-200/P-4101 mendarat sekitar pukul 14.50 WITA. Di dalam pesawat itu, jenazah Alfonsius dibawa pulang dari tanah tempat ia menjalankan tugas dan mengabdikan dirinya selama kurang lebih sembilan tahun.
Dua menit kemudian, tepat pukul 14.52 WITA, peti jenazah diturunkan dari pesawat. Suasana haru segera menyelimuti Bandara Frans Seda. Jajaran pemerintah daerah, TNI-Polri, Forkopimda, pimpinan organisasi perangkat daerah, keluarga, serta masyarakat Kabupaten Sikka berdiri dalam suasana khidmat.
Mereka datang untuk memberikan penghormatan kepada seorang putra daerah yang telah menghabiskan sebagian besar perjalanan pengabdiannya jauh dari tanah kelahiran. Alfonsius lahir di Maumere pada 1 Maret 1991.
Ia adalah putra Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka. Dari Wailiti, langkahnya membawa Alfonsius menuju Papua. Sebagai dokter hewan ASN pada Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan.
Ia menjalankan profesinya sekaligus mengemban tugas negara di tanah penempatan. Sembilan tahun bukan waktu yang singkat.
Selama kurun tersebut, tanah Papua menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya. Jauh dari keluarga dan kampung halaman, Alfonsius menjalankan tugas sebagai dokter hewan hingga akhirnya pengabdiannya terhenti secara tragis.
Di usia 35 tahun, perjalanan hidup itu berakhir. Ia meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak.
Pada pukul 14.53 WITA, prosesi penyerahan jenazah berlangsung. Pemerintah Provinsi NTT menyerahkan jenazah kepada Pemerintah Kabupaten Sikka yang diwakili Kepala Dinas Nakertrans NTT Yosef Rasi, S.Sos., M.Si.
Jenazah kemudian diterima langsung Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago, S.H. Selanjutnya, jenazah akan dibawa menuju rumah duka di Kelurahan Wailiti, tempat Alfonsius dilahirkan dan tumbuh bersama keluarganya.
Seolah perjalanan panjang itu hendak ditutup kembali di titik awal. Pada pukul 14.55 WITA, anggota Kodim 1603/Sikka mengusung peti jenazah menuju kendaraan. Suasana tetap hening dan khidmat. Dua menit berselang, jenazah dinaikkan ke mobil ambulans.
Tepat pukul 15.00 WITA, ambulans meninggalkan Bandara Frans Seda menuju rumah duka. Kendaraan itu bergerak dengan pengawalan personel Satuan Lalu Lintas Polres Sikka. Di belakangnya, keluarga dan masyarakat mengikuti dalam iring-iringan penuh duka.
Tidak ada lagi perjalanan menuju tempat tugas. Tidak ada lagi kepulangan untuk sementara waktu. Kali ini, Alfonsius pulang untuk selamanya.
Kepulangan itu turut disaksikan Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago, Wakil Bupati Sikka Simon Subandi Supriadi, Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno, Dandim 1603/Sikka Letkol Arm Denny Riesta Permana, Kepala Kejaksaan Negeri Sikka Armadha Tangdibali, Ketua DPRD Sikka Stefanus Sumandi, perwakilan Lanal Maumere, pimpinan OPD, personel TNI-Polri, keluarga, serta masyarakat.
Kehadiran mereka menjadi bentuk penghormatan terakhir bagi seorang putra Sikka yang gugur ketika menjalankan pengabdiannya. Bagi keluarga, kepulangan Alfonsius membawa kesedihan yang jauh lebih dalam.
Rumah yang dahulu menjadi tempat ia kembali setelah menjalani tugas, kini menjadi rumah duka. Istri dan tiga anak yang ditinggalkan harus menerima kenyataan bahwa sosok yang selama ini menjadi bagian penting dalam keluarga tidak akan lagi kembali melalui pintu rumah itu.
Namun, di balik kehilangan tersebut, ada jejak pengabdian yang tidak ikut pergi. Selama sembilan tahun di Papua, Alfonsius telah menjalankan tugasnya sebagai dokter hewan ASN. Ia meninggalkan tanah kelahiran untuk mengabdi di daerah penempatan, membawa ilmu dan tanggung jawab profesinya untuk masyarakat di tempat ia bertugas.
Kini, perjalanan itu telah sampai pada penghujungnya, dimana dari Wailiti ia pernah berangkat membawa harapan. Ia meninggalkan kampung halaman untuk menjalankan tugas, menempuh jarak yang jauh demi sebuah pengabdian.
Dan pada Sabtu sore itu, Wailiti kembali menerimanya. Bukan sebagai seorang putra yang pulang setelah menyelesaikan tugas, melainkan sebagai seorang anak, suami, ayah, dan abdi negara yang telah gugur.
Tanah kelahiran menjadi tempat terakhirnya beristirahat. Bagi masyarakat Sikka, kepulangan Alfonsius bukan sekadar prosesi pemulangan jenazah. Ia menjadi pengingat tentang panjangnya jalan pengabdian yang harus ditempuh seseorang ketika memilih menjalankan tugas di tanah yang jauh dari keluarga.
Sembilan tahun pengabdian di tanah Papua kini menjadi bagian dari sejarah hidupnya. Selamat jalan, drh. Alfonsius Albinus Mehan.
Dari Wailiti engkau berangkat membawa harapan. Dari Papua engkau kembali dalam keheningan. Dan di tanah kelahiran ini, jejak pengabdianmu akan terus dikenang oleh keluarga dan masyarakat Sikka.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....