Menembus Tebing dan Laut Demi Warga Terdampak Gempa

  • 09 Sep 2026 12:42 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende: Jalan pegunungan yang rusak bukan lagi sekadar jalur yang harus dilewati. Bagi tenaga kesehatan yang bertugas di wilayah terdampak gempa Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), jalan terjal, tebing dan jurang curam menjadi bagian dari perjuangan untuk menemui warga yang membutuhkan pertolongan.

Kadang perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki. Bahkan, jalur laut menjadi pilihan ketika medan darat terlalu sulit dan waktu harus dipangkas. Begitulah perjalanan yang dilakoni dr. Halik Malik bersama tiga relawan kesehatan lainnya.

Mereka merupakan bagian dari Tim Cadangan Kesehatan (TCK) Kementerian Kesehatan RI batch pertama yang ditempatkan di Puskesmas Ndona, Kabupaten Ende. Delapan desa menjadi wilayah kerja puskesmas tersebut, tidak semuanya mudah dijangkau.

“Sebagian besar wilayah kerja puskesmas tempat kami bertugas termasuk daerah sulit akses. Umumnya hanya dapat ditempuh dengan kendaraan yang pengemudinya berpengalaman menghadapi medan ekstrem atau dengan berjalan kaki,” ujar dr. Halik seperti yang dikuti dalam rilis Kemenkes, Senin, 7 September 2026 .

Salah satu perjalanan yang paling membekas terjadi ketika tim melakukan pelayanan kesehatan bergerak atau mobile clinic ke Desa Nila. Perjalanan dimulai dengan menggunakan mobil atau sepeda motor sekitar 3 jam perjalanan. Setelah itu, perjalanan belum selesai, tim masih harus berjalan kaki mendaki selama kurang lebih 2,5 jam untuk mencapai desa tujuan.

Lelah tentu menjadi bagian dari perjalanan. Namun, kebutuhan warga membuat langkah harus terus bergerak.

Di desa-desa pelosok, pelayanan kesehatan bukan hanya soal ruang pemeriksaan dan obat-obatan. Kadang, untuk menemui seorang pasien, tenaga kesehatan harus terlebih dahulu melewati jalan rusak, menuruni atau menaiki tebing, kemudian berjalan kaki menyusuri medan yang sulit.

Perjalanan pulang dari Desa Nila bahkan menghadirkan tantangan berbeda. Untuk menghemat waktu, tim memilih jalur laut melalui sebuah dermaga darurat, dari kawasan tebing dan jurang, para relawan langsung menuju kapal motor dan menempuh perjalanan sekitar dua jam menyusuri pesisir selatan Pulau Ende.

“Ekstremnya lagi, untuk memangkas waktu pulang dari Desa Nila, tim relawan harus menempuh jalur laut dari dermaga darurat. Dari tebing jurang langsung naik ke kapal,” ucapnya.

Bagi tim kesehatan, perjalanan panjang itu bukan sekadar cerita tentang sulitnya medan. Di ujung perjalanan, ada masyarakat yang sedang menunggu.

Gempa telah mengubah banyak hal. Sebagian warga masih bertahan di rumah dengan tenda pengungsian mandiri yang didirikan di depan rumah, warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat harus bertahan dengan bantuan tenda dan logistik sambil menunggu proses pemulihan dan penyediaan hunian sementara.

Di tengah kondisi tersebut, kebutuhan pelayanan kesehatan tetap berjalan. Keluhan yang ditemukan tim cukup beragam, Infeksi saluran pernapasan, sakit lambung, hipertensi, pegal-pegal atau nyeri persendian hingga gangguan tidur menjadi sejumlah masalah kesehatan yang banyak ditemui.

Bagi warga dengan penyakit kronis, situasinya menjadi lebih berat. Akses menuju fasilitas kesehatan yang terganggu membuat pengobatan dan pemeriksaan tidak selalu dapat dilakukan seperti sebelum bencana.

Namun gempa tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik. Gempa susulan yang masih terjadi membuat sebagian warga hidup dalam kecemasan, rasa takut kembali muncul setiap kali tanah berguncang. Sebagian warga bahkan mengalami gangguan tidur dan serangan panik.

“Tidak jarang ditemukan warga yang mengalami trauma dan gangguan tidur karena serangan panik atau kecemasan,” kata dr. Halik.

Di tengah kondisi itu, kehadiran tenaga kesehatan menjadi lebih dari sekadar memberikan obat. Mereka datang untuk memeriksa, mendengarkan keluhan, memberikan pengobatan, sekaligus memastikan warga tidak merasa sendirian menghadapi situasi pascabencana.

Dalam perjalanan pelayanan, tim juga menemukan kasus yang membutuhkan penanganan segera. Persalinan darurat hingga gagal napas akibat infeksi saluran pernapasan pada anak balita menjadi bagian dari situasi yang harus dihadapi.

Penanganan dilakukan bersama petugas puskesmas. Jika kondisi pasien membutuhkan layanan lebih lanjut, rujukan dilakukan ke fasilitas kesehatan yang masih mampu memberikan pelayanan.

Bagi dr. Halik, mendatangi langsung masyarakat menjadi salah satu cara untuk memastikan tidak ada warga yang terlewat dari pelayanan kesehatan. “Tim relawan menyisir wilayah kerja di masing-masing puskesmas untuk memastikan siapa saja yang sakit di pelosok desa sekalipun mendapatkan tindakan medis segera yang seharusnya mereka dapatkan,” ujarnya.

Kehadiran tim kesehatan pun mendapat sambutan antusias masyarakat. Bagi warga yang selama ini harus menempuh jarak cukup jauh untuk mendapatkan pengobatan, kedatangan tenaga kesehatan ke desa menjadi bantuan yang sangat berarti.

Apalagi sejumlah pustu di wilayah terdampak belum dapat berfungsi secara optimal. Di Kabupaten Ende, sedikitnya 12 dari 28 puskesmas mendapatkan dukungan relawan kesehatan TCK Kemenkes RI.

Para relawan membantu memperkuat pelayanan di tenda kesehatan sekaligus mendukung pelayanan bergerak dari desa ke desa. Bangunan puskesmas yang sebelumnya menjadi tempat masyarakat mendapatkan pelayanan kini sebagian harus ditinggalkan sementara.

“Pada umumnya, puskesmas yang sebelumnya melayani masyarakat selama 24 jam kini harus beralih menjadi posko tenda pelayanan kesehatan karena bangunan yang rusak dan sejumlah petugasnya turut menjadi korban bencana,”ujar dr. Halik.

Di tengah keterbatasan itu, tenaga kesehatan juga harus berhadapan dengan kondisi geografis Ende yang tidak mudah. Jalan pegunungan dengan tebing dan jurang curam diperparah kerusakan jalan serta longsor di sejumlah titik. Setiap perjalanan harus dilakukan dengan penuh kewaspadaan, terlebih gempa susulan masih dapat terjadi sewaktu-waktu.

Namun, kondisi tersebut tidak membuat pelayanan berhenti. Dari satu desa ke desa lainnya, tenaga kesehatan terus bergerak. Kendaraan digunakan sejauh jalan masih dapat dilalui. Ketika kendaraan tidak lagi mampu melanjutkan perjalanan, kaki menjadi pilihan. Bahkan laut pun ditempuh ketika jalur tersebut menjadi jalan tercepat untuk kembali.

“Tantangan terbesar adalah kapasitas layanan kesehatan dasar yang belum memadai, bahkan sebelum bencana terjadi. Situasi ini diperberat dengan wilayah terdampak yang sulit diakses dan bertambah sulit pascabencana karena jalan putus atau longsor di sejumlah titik,” ujar dr. Halik.

Perjalanan para nakes itu mungkin tidak selalu terlihat. Tidak semua perjuangan mereka berlangsung di ruang gawat darurat atau rumah sakit.

Sebagian berlangsung di jalan pegunungan yang rusak, di antara tebing dan jurang, di atas kapal motor, atau dengan langkah kaki yang perlahan menapaki jalan menuju sebuah desa. Tetapi di setiap ujung perjalanan, ada satu tujuan yang sama: memastikan masyarakat terdampak gempa tetap mendapatkan hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan.

Kemenkes bersama pemerintah daerah terus memperkuat respons kesehatan melalui dukungan tenaga kesehatan, pelayanan kesehatan bergerak, tenda pelayanan, dan logistik medis. Sementara fasilitas kesehatan masih berbenah, para nakes memilih untuk tidak menunggu masyarakat datang.

Mereka yang datang menghampiri. Menembus jalan yang rusak, melewati medan ekstrem, bahkan menyeberangi laut, demi memastikan tidak ada warga di pelosok yang terlupakan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....