Satu Dokter, Ratusan Korban, dan Stetoskop di Tengah Bencana Gempa NTT

  • 18 Agt 2026 07:42 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Timur - Malam itu belum benar-benar berakhir ketika gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Minggu 15 Agustus 2026 pagi. Dalam kepanikan, warga berlarian menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi setelah melihat air laut mulai surut dan peringatan tsunami dikeluarkan.

Di tengah situasi tersebut, Dokter Melinda Bella (28), dokter umum Puskesmas Dampek, ikut berlari bersama warga. Namun, berbeda dengan sebagian besar pengungsi yang berusaha menyelamatkan barang-barang penting, Melinda hanya sempat membawa satu benda yang melekat pada profesinya—stetoskop.

“Saat di gunung kami semua hanya membawa diri. Saya hanya berlarian dengan stetoskop saya. Obat-obatan apa pun tidak ada,” kata dr. Melinda saat ditemui di Posko Kampung Damer, Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur, NTT, Senin 17 Agustus 2026.

Di tempat pengungsian sementara itu, dr. Melinda segera berhadapan dengan kondisi yang jauh dari situasi pelayanan kesehatan normal. Satu per satu korban berdatangan dari berbagai wilayah. Sebagian mengalami luka berat akibat tertimpa reruntuhan bangunan, sementara korban lainnya membutuhkan pertolongan segera.

Dengan peralatan yang sangat terbatas, pemeriksaan awal dilakukan hanya menggunakan stetoskop. Untuk korban yang mengalami patah tulang, dr. Melinda memberikan penanganan awal menggunakan bidai atau spalk. Sementara untuk pasien dengan luka terbuka, keterbatasan obat membuat setiap dosis harus digunakan sehemat mungkin.

“Kami hanya mendapatkan beberapa obat-obatan yang tersisa dari Puskesmas. Misalnya untuk suntikan bius, hanya ada satu ampul. Satu ampul itu dua cc, untuk satu pasien hanya bisa diberikan 0,5 cc dan saya bagi dua untuk bagian kiri dan kanan, agar semua pasien bisa mendapatkan,” katanya.

Setelah peringatan tsunami dicabut, warga dan tenaga kesehatan turun dari tempat tinggi dan mendirikan posko sederhana. Tikar digelar menjadi ruang perawatan darurat. Dalam kondisi tersebut, dr. Melinda menyebut hampir 200 pasien berada di lokasi dengan kondisi yang beragam, termasuk pasien dengan luka berat.

Adapun yang membuat situasi semakin sulit, Melinda merupakan satu-satunya dokter di wilayah pelayanan tersebut. Puskesmas Dampek juga terdampak gempa. Sejumlah tenaga kesehatan tidak dapat langsung bertugas karena ikut terdampak bersama keluarganya.

Wilayah pelayanan Puskesmas Dampek mencakup sekitar 17 ribu penduduk di delapan desa. Bahkan sebelum gempa terjadi, dr. Melinda mengaku sudah menghadapi beban pelayanan yang berat. Ia menyebut dirinya harus siap memberikan pelayanan hampir 24 jam.

“Saya tidak mampu untuk menangani 17.000 penduduk. Hari-harinya saya selalu 24 jam. Sebelum kejadian gempa juga memang sudah kewalahan, jujur,” ungkapnya.

Selain itu, dr. Melinda berharap kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah, terutama dalam penambahan tenaga dokter dan dukungan medis bagi wilayah yang sulit dijangkau. Menurutnya, kebutuhan dokter di wilayah tersebut sangat besar, sementara akses rujukan ke rumah sakit kabupaten dapat memakan waktu sekitar lima hingga enam jam.

Di tengah keterbatasan itu, warga yang berada di posko justru melihat sosok dr. Melinda sebagai salah satu orang yang membuat mereka tetap tenang. Seorang pengungsi Natalia Ail (44) mengaku dokter tersebut tidak hanya memberikan pelayanan medis, tetapi juga terus menguatkan warga agar tidak panik.

“Dia baik sekali, dia bermasyarakat, cinta kasih. Kalau belum ada obat, dia tetap upayakan dengan cara lain. Dia bilang, sabar, tenang, tidak boleh panik,” ujar warga tersebut.

Bagi dr. Melinda, perjuangan belum selesai setelah gempa berlalu. Selain kebutuhan obat-obatan, ia melihat pentingnya tambahan tenaga kesehatan, persediaan darah, perlengkapan dasar serta dukungan psikologis bagi para penyintas, terutama anak-anak yang mengalami trauma.

Di atas tikar sederhana di Posko Kampung Damer, stetoskop yang dibawanya saat berlari menyelamatkan diri menjadi lebih dari sekadar alat medis. Benda itu menjadi pengingat bahwa di tengah bencana, ketika fasilitas kesehatan rusak dan tenaga medis terbatas, seorang dokter tetap memilih untuk bertahan—mendengarkan detak jantung pasien dan berusaha menyelamatkan satu nyawa demi satu nyawa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....