Duta Bahasa Dorong Anak Muda Jaga Identitas Bahasa Daerah

  • 28 Apr 2026 17:35 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende - Penurunan penggunaan bahasa daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT) kian mengkhawatirkan dan berpotensi menghilangkan identitas budaya lokal. Generasi muda dinilai menjadi faktor penentu dalam menjaga keberagaman bahasa agar tidak punah.

Putri Duta Bahasa NTT 2026, Apriani, dalam obrolan bersama Pro 2 RRI Ende, Selasa, 28 April 2026 mengungkapkan terdapat sekitar 72 bahasa daerah di NTT yang tersebar di 22 kabupaten/kota. Namun, sebagian di antaranya kini berada dalam kondisi terancam karena semakin sedikit digunakan, terutama oleh generasi muda.

Menurutnya, masalah utama berakar dari perubahan pola komunikasi dalam keluarga yang tidak lagi membiasakan penggunaan bahasa daerah. Ia menegaskan, jika bahasa daerah tidak diwariskan sejak dini, maka generasi berikutnya akan kehilangan kemampuan dasar untuk menggunakannya.

Selain itu, urbanisasi dan dominasi bahasa Indonesia serta bahasa asing turut mempercepat pergeseran tersebut. Banyak masyarakat di perkotaan lebih memilih bahasa Indonesia untuk kemudahan komunikasi, sehingga bahasa daerah semakin terpinggirkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai respons, Apriani mendorong penerapan Trigatra Bangun Bahasa, yaitu mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing. Ia menilai ketiganya harus berjalan beriringan agar generasi muda tetap mampu bersaing secara global tanpa kehilangan identitas lokal.

Apriani juga menghadirkan inovasi “Kemas Aksara”, program berbasis QR code yang mengintegrasikan bahasa dalam produk UMKM. Melalui program ini, masyarakat dapat mengakses informasi produk sekaligus mengenal istilah dan cerita budaya dalam bahasa daerah, Indonesia, dan Inggris.

Ia menilai langkah tersebut tidak hanya mendukung pelestarian bahasa, tetapi juga meningkatkan daya tarik produk lokal. Dengan pendekatan ini, bahasa daerah tetap hidup dalam aktivitas ekonomi dan pariwisata masyarakat.

Apriani mengajak generasi muda untuk kembali membangun budaya literasi sebagai bagian dari pelestarian bahasa. Ia menekankan pentingnya membaca dan berpikir kritis agar penggunaan bahasa tidak hanya aktif, tetapi juga berkualitas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....