Bagi Pemuda Larantuka, Toleransi Bukan Sekadar Kata, Tapi Praktik Sehari-hari

  • 09 Apr 2026 19:08 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Flotim – Di Larantuka, toleransi tidak berhenti pada wacana. Nilai itu hidup dalam keseharian masyarakat, tumbuh dari kebiasaan saling menghargai di tengah perbedaan keyakinan.

Seorang pemuda Muslim, Onchu Bethan, memaknai toleransi sebagai sikap saling menghormati antarumat beragama. Ia menyebut prinsip dalam ajaran Islam, “lakum dinukum waliyadin”, menjadi dasar dalam menjaga hubungan harmonis.

Menurutnya, toleransi tercermin dari sikap tidak mengganggu umat lain saat beribadah. Bahkan, bentuk kepedulian itu diwujudkan melalui bantuan nyata, seperti menyediakan fasilitas bagi umat Katolik yang menjalankan ibadah.

Salah satu contoh nyata adalah kehadiran Posko Toleransi saat Semana Santa di Larantuka. Posko ini menjadi tempat singgah bagi para peziarah yang datang dari berbagai daerah, terutama ketika penginapan penuh.

Onchu Bethan menegaskan bahwa toleransi juga memiliki batas yang harus dijaga. Ia menilai, menghormati tidak berarti mencampuradukkan keyakinan atau ikut dalam ritual agama lain.

Baginya, selama umat saling menjaga, menghormati, dan membantu agar ibadah berjalan dengan tenang, nilai toleransi telah terwujud. Kehadiran posko menjadi bentuk sederhana namun bermakna dari kepedulian tersebut.

Di Flores Timur, khususnya Larantuka, nilai toleransi sudah mengakar kuat. Tradisi hidup rukun ini diwariskan secara turun-temurun dari generasi sebelumnya hingga saat ini.

Masyarakat setempat tidak hanya membicarakan toleransi dalam forum atau diskusi. Nilai tersebut langsung dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam momentum keagamaan seperti Semana Santa.

Melalui praktik nyata ini, Larantuka dikenal sebagai daerah yang mampu menjaga harmoni di tengah keberagaman. Toleransi pun bukan lagi sekadar konsep, melainkan bagian dari identitas sosial masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....