Dari Lumpur, Harapan Tumbuh Lewat Gotong Royong Babinsa dan Warga Pota

  • 24 Mar 2026 08:52 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Timur - Pagi itu, Kampung Pasir Timur, Kelurahan Pota, Kecamatan Sambi Rampas, belum sepenuhnya pulih dari luka. Sisa-sisa banjir masih tertinggal di sudut-sudut rumah warga—lumpur yang mengering, potongan kayu yang berserakan, serta bau asin air laut yang belum sepenuhnya hilang. Gelombang yang datang sehari sebelumnya seolah menyisakan cerita getir tentang betapa rapuhnya kehidupan di wilayah pesisir ketika alam menunjukkan kuasanya.

Banjir yang terjadi pada Senin, 23 Maret 2026, bukan sekadar genangan biasa. Air laut yang meluap masuk hingga ke permukiman, membawa serta material yang mengotori rumah-rumah warga. Dinding yang tadinya bersih kini dipenuhi noda lumpur, sementara perabotan harus diselamatkan dari kerusakan yang lebih parah. Di tengah situasi itu, warga hanya bisa saling menguatkan, menatap kondisi kampung yang berubah dalam sekejap.

Namun pagi itu, harapan mulai tampak. Di antara warga yang sibuk membersihkan sisa banjir, hadir sosok berseragam loreng yang tak ragu mengotori tangannya. Pratu Kristoforus, Babinsa dari Koramil 1612-04/Elar, datang bukan untuk sekadar melihat, tetapi ikut bekerja. Ia menyatu dengan warga, mengangkat lumpur, memindahkan kayu, dan membersihkan lingkungan yang terdampak.

Tak ada jarak antara aparat dan masyarakat. Canda ringan sesekali terdengar di sela kerja keras yang melelahkan. Gotong royong menjadi bahasa yang menyatukan mereka—bahasa yang tak membutuhkan banyak kata, tetapi terasa kuat dalam tindakan. Dalam setiap ayunan sekop dan sapuan sapu, ada semangat untuk bangkit bersama dari bencana yang baru saja dilalui.

Bagi Pratu Kristoforus, kehadiran di tengah warga bukanlah sesuatu yang luar biasa, melainkan bagian dari tanggung jawab. Ia memahami betul bahwa tugas seorang Babinsa bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi saat masyarakat menghadapi kesulitan. Di tengah lumpur dan sisa-sisa banjir, ia berdiri sebagai pengingat bahwa negara hadir melalui tangan-tangan yang mau bekerja.

“Kami sebagai Babinsa harus selalu hadir di tengah masyarakat, terutama saat warga mengalami kesulitan seperti bencana ini. Semoga dengan gotong royong ini, kondisi kampung bisa segera pulih dan masyarakat dapat kembali beraktivitas seperti biasa,” ujarnya.

Di sisi lain, warga merasakan kehangatan yang tak bisa digantikan oleh apa pun. Yusuf, salah satu warga terdampak, mengungkapkan rasa syukurnya. Baginya, bantuan yang datang bukan hanya meringankan pekerjaan, tetapi juga menguatkan hati yang sempat lelah menghadapi dampak bencana. Dalam kebersamaan itu, beban terasa lebih ringan, dan harapan perlahan kembali tumbuh.

“Kami sangat terbantu dengan kehadiran Babinsa. Kondisi setelah banjir ini cukup berat bagi kami, tapi dengan bantuan ini pekerjaan jadi lebih cepat selesai,” katanya.

Menjelang siang, wajah Kampung Pasir Timur mulai berubah. Lingkungan yang semula penuh lumpur perlahan kembali tertata. Meski belum sepenuhnya pulih, setidaknya ada langkah awal yang memberi keyakinan bahwa kehidupan akan berjalan normal kembali. Di kampung kecil itu, di antara sisa banjir dan semangat gotong royong, tersimpan pelajaran sederhana: bahwa kepedulian dan kebersamaan adalah kekuatan paling nyata untuk bangkit dari setiap cobaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....