Tenun Ikat Jadi Penopang Ekonomi Tahan Iklim
- 13 Nov 2025 13:44 WIB
- Ende
KBRN, Ende: Di Desa Dhereisa, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, tanahnya keras dan berbatu. Sumber air adalah kemewahan, dan hasil pertanian kini tak lagi bisa diandalkan. Perubahan iklim telah memaksa masyarakat, khususnya kaum perempuan, untuk mencari jalan keluar. Musim tanam yang tak menentu dan kekeringan panjang telah menggerus harapan yang bergantung pada ladang.
Namun, di tengah keterbatasan itu, 14 ibu rumah tangga Dhereisa membuktikan bahwa krisis bisa diubah menjadi peluang. Melalui tangan terampil mereka, sehelai demi sehelai benang ditenun, menghasilkan kain tradisional khas Nagekeo yang indah, sekaligus menjadi benteng ekonomi keluarga yang tangguh terhadap guncangan iklim.
Inilah kisah Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP) “Wongawali 1”, sebuah gerakan yang dipimpin oleh Mama Tris, panggilan akrab Trivonia Gaja Wona. Semangat gotong royong dan kesadaran akan nasib yang sama melahirkan Wongawali 1 sebagai solusi lokal. Mereka menyadari, untuk bangkit, mereka harus berdiri di atas kaki sendiri.
Dengan modal awal yang sangat sederhana, hanya Rp 389.000 hasil iuran anggota, mereka memulai perjuangan. Keyakinan dan ketekunan para ibu ini membuat modal awal itu berkembang pesat menjadi Rp 2,8 juta pada Juni 2025. Perkembangan ini diperkuat dengan hibah sebesar Rp 10 juta dari pihak ketiga, menjadikannya dana bergulir yang kokoh untuk usaha produktif mereka, yaitu tenun ikat.
Setiap anggota meminjam Rp 300.000 untuk membeli benang dan kebutuhan menenun. Dari pinjaman kecil inilah, mereka mampu menghasilkan minimal dua lembar kain tenun tradisional. Dengan harga jual rata-rata mulai dari Rp 400.000 per lembar, pendapatan bersih seorang penenun bisa mencapai Rp 1 juta per bulan.
Angka ini jauh melampaui upah buruh tani harian yang hanya berkisar Rp 50.000. Ini bukan sekadar peningkatan penghasilan, tetapi sebuah transformasi martabat.
"Kami tidak hanya menenun kain, tetapi juga menenun harapan bagi keluarga kami. Tenun ini tidak tergantung musim, jadi walau kemarau panjang, dapur kami tetap mengepul," ujar Mama Tris dengan mata berbinar.
Keberhasilan Wongawali 1 tidak lepas dari pendampingan strategis. Yayasan Mitra Tani Mandiri Flores (YMTM F) dengan dukungan World Neighbors (WN) dan KLHK-RI membantu memperkuat fondasi usaha mereka.
Ibu-ibu Dhereisa dibekali pelatihan manajemen keuangan dan analisa usaha. Mereka menjadi lebih percaya diri mengelola pinjaman UBSP, mengubah kebiasaan menabung, dan memastikan pinjaman produktif mereka menghasilkan keuntungan maksimal.
Salah satu inovasi terbesar adalah efisiensi biaya produksi. Dengan membeli benang secara kolektif, mereka berhasil mengurangi biaya produksi hingga Rp 30.000 per kain. Penghematan kolektif ini mencapai Rp 1,68 juta per bulan untuk seluruh anggota—sebuah angka signifikan bagi ekonomi desa.
Kini, kain tenun Dhereisa tidak hanya terkenal di Boawae dan Mbay. Kualitas dan motifnya yang khas telah menembus pasar luar daerah. UBSP Wongawali 1 membuktikan bahwa perempuan desa adalah agen perubahan ekonomi yang mumpuni sekaligus penjaga warisan budaya.
Kisah Wongawali 1 menginspirasi. Keberhasilan mereka memicu bangkitnya 25 kelompok UBSP lain di 12 desa sekitar, yang mengembangkan berbagai usaha mikro, mulai dari jual beli ternak, komoditas perkebunan, hingga kerajinan anyaman tas adat. Semua usaha ini berorientasi pada peningkatan ketahanan ekonomi rumah tangga, dengan rata-rata pendapatan yang meningkat antara Rp 1,2–1,5 juta per bulan.
Tenun ikat menjadi pelajaran berharga: usaha yang berakar kuat pada budaya lokal dan tidak bergantung pada kondisi alam yang kini labil, adalah strategi adaptasi iklim yang paling berkelanjutan.
Dari Desa Dhereisa, Nagekeo, mengalir pesan yang kuat: perempuan bukan hanya penjaga rumah tangga. Ketika diberi kesempatan dan fasilitas, mereka adalah penggerak roda ekonomi desa. Setiap helai kain tenun yang dihasilkan adalah simbol ketangguhan, warisan budaya yang dilestarikan, dan harapan yang terus menerangi masa depan di tengah tantangan iklim.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....