Garam Tradisional Watodiri, Warisan Leluhur Penopang Ekonomi Desa
- 10 Okt 2025 14:42 WIB
- Ende
KBRN, Lembata: Di sebuah sudut pesisir Desa Watodiri, Kabupaten Lembata, aroma asin laut berpadu dengan hangatnya bara kayu bakar. Dari kepulan asap itu, tampak sosok perempuan tangguh bernama Yasinta Abong, seorang pemasak garam tradisional yang setia menjaga warisan leluhur.
Dengan tangan terampil dan hati penuh ketekunan, Yasinta telah bertahun-tahun menekuni pekerjaan ini. Pekerjaan yang bukan hanya menghidupi, tetapi juga telah mengantarkan anak-anaknya menjadi orang sukses.
“Sejak gadis saya sudah bikin garam, ini memang warisan dari orang tua kami. Dulu mama ajar, sekarang saya teruskan,” ujar Yasinta sambil mengaduk air laut di atas tungku kayu, Kamis (9/10/2025).
| Baca juga: Menjaga Asa lewat Helai Tenun Wolowaru |
Proses pembuatan garam tradisional di Watodiri bukan perkara mudah. Membutuhkan waktu dua hingga 3 hari penuh untuk menghasilkan garam siap jual.
Hari pertama, Yasinta dan beberapa warga menyaring air laut menggunakan pasir yang diambil dari tepian pantai. Pasir itu dipilih khusus karena mengandung kristal garam alami.
Air hasil saringan kemudian dikumpulkan dalam wadah ember. Keesokan harinya, air itu dimasak di atas tungku kayu bakar selama hampir dua jam.
Panas api dan embusan angin laut menjadi saksi kerja keras mereka. Setelah air mendidih dan mulai mengkristal, garam hasil rebusan dijemur hingga kering.
Barulah butiran putih itu siap dikemas atau dijual di pasar lokal. Meski dijalankan secara sederhana, usaha garam tradisional ini menyimpan nilai ekonomi dan budaya yang besar.
Yasinta berharap, apa yang ia lakukan tak berhenti sebatas tradisi keluarga. Ia ingin agar produksi garam tradisional Watodiri bisa berkembang menjadi destinasi wisata edukatif.
“Kami ingin kalau bisa dibantu dalam pasca produksi, ada label kemasan, dan usaha ini terdaftar di BPOM maupun Perindag. Supaya garam Watodiri juga punya nama dan nilai jual lebih,” ucapnya berharap.
Di balik butiran garam hasil tangan Yasinta, tersimpan kisah ketekunan dan kebanggaan akan warisan leluhur. Setiap sendok garam yang dihasilkan bukan hanya bumbu kehidupan, tetapi juga simbol perjuangan perempuan pesisir Lembata dalam menjaga tradisi, membangun ekonomi, dan mewariskan nilai luhur bagi generasi berikutnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....