Ja'i dan Gawi: Warnai Semangat Bhayangkara di Ende
- 01 Jul 2025 13:13 WIB
- Ende
KBRN, Ende: Langit pagi di atas Lapangan Apel Polres Ende, Selasa (1/7/2025), tampak cerah. Namun yang lebih menyinari suasana bukan hanya sinar mentari, melainkan gelombang semangat yang mengalir dari derap kaki dan gerakan tangan ratusan orang yang larut dalam tarian adat Ja’i dan Gawi.
Di tengah peringatan Hari Bhayangkara ke-79, budaya lokal tampil sebagai bahasa persatuan yang menyatukan seluruh elemen masyarakat Kabupaten Ende. Tarian Ja’i dan Gawi, dua mahakarya budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Nusa Tenggara Timur mendominasi akhir upacara dengan nuansa hangat dan sarat makna.
Forkompinda, tamu undangan, personel Polri, ASN, hingga warga sipil, semuanya bergandeng tangan membentuk lingkaran, bergerak serempak mengikuti irama gong dan gendang. Tak ada sekat pangkat, jabatan, atau latar belakang. Yang ada hanya satu yakni kebersamaan.
Bagi Kapolres Ende, AKBP I Gede Ngurah Joni Mahardika, momen ini lebih dari sekadar hiburan. Tarian Ja’i dan Gawi merupakan wujud nyata nilai-nilai luhur masyarakat Flores mengenai persatuan, gotong royong, dan kesederhanaan.
"Kami ingin menunjukkan bahwa Bhayangkara hadir tidak hanya sebagai penjaga keamanan, tapi juga penjaga nilai-nilai sosial dan budaya,” ujarnya dengan nada penuh harap.
Upacara Hari Bhayangkara tahun ini tidak dibingkai dengan seremonial yang kaku. Sebaliknya, Polres Ende menjadikannya momentum reflektif untuk mempererat hubungan antara aparat kepolisian dan masyarakat.
Di tengah tantangan zaman dan keberagaman yang semakin kompleks, pendekatan humanis seperti ini menjadi fondasi penting dalam menciptakan stabilitas sosial.
“Melalui tarian adat ini, kita tidak hanya merayakan Hari Bhayangkara, tapi juga merayakan jati diri kita sebagai masyarakat NTT yang kaya budaya dan nilai-nilai luhur,” katanya.
Lebih dari sekadar sebuah pertunjukan, tarian ini adalah cermin jati diri. Gerak yang bersahaja namun penuh filosofi itu menjadi media penyatu di tengah perbedaan.
| Baca juga: Rabu Abu dan Awal Ramadan 2026 Bertepatan |
Ja’i dan Gawi mengajarkan bahwa kehidupan harus dijalani dengan irama yang seimbang antara individu dan komunitas—seperti tarian, di mana tiap langkah harus selaras agar tak kehilangan harmoni. Dengan langkah kaki yang serempak dan senyum yang tak henti terukir, masyarakat Ende hari itu seolah ingin berkata: “Kami Bhayangkara, kami masyarakat, kami satu.”
Dan mungkin, itulah pesan paling dalam dari perayaan Bhayangkara ke-79 di Kabupaten Ende bahwa keamanan dan kedamaian lahir dari kebersamaan, dari rasa memiliki, dan dari warisan budaya yang dijaga bersama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....