Relawan Muda Ikut Hidupkan Kembali Ritual Jokaju Nggela
- 31 Agt 2026 08:30 WIB
- Ende
Poin Utama
- Laskar ASA telah mendampingi masyarakat Desa Adat Nggela sejak 2023.
- Relawan berasal dari Jawa, Ende, serta bergabung dengan Duta Pariwisata Kabupaten Ende.
- Keterlambatan transportasi membuat tim mengubah jadwal kegiatan dan berkoordinasi dengan Mosalaki.
- Ritual Jokaju Nggela kembali digelar setelah terhenti pascakebakaran besar perkampungan adat pada 2018.
- Tarian Gawi menjadi simbol persatuan dan kebersamaan masyarakat suku Lio.
- Generasi muda didorong memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan budaya lokal secara lebih luas.
RRI.CO.ID, Ende - Pro Dua RRI Ende menyoroti keterlibatan relawan muda dalam ritual Jokaju Nggela melalui Obrolan Spada pada Sabtu, 11 Juli 2026. Program tersebut menghadirkan Anis Mustikasari, Project Leader Laskar ASA dari Asa-Rasa Indonesia, sebagai narasumber utama.
Laskar ASA merupakan komunitas pemberdayaan masyarakat yang mendampingi desa-desa adat Nggela sejak 2023 melalui pariwisata, ekonomi kreatif, pendidikan. Sebanyak 13 relawan dari Jawa dan Ende bergabung, kemudian jumlahnya bertambah menjadi 22 hingga 24 bersama Duta Pariwisata.
Kehadiran relawan terkendala keterlambatan kapal dari Jawa sehingga tim melewatkan ritual pertama dan mengubah seluruh jadwal kegiatan tambahan. Koordinasi mendadak bersama pemerintah desa, penginapan, serta Mosalaki dilakukan agar rangkaian pendampingan tetap berjalan sesuai ketentuan adat setempat.
“Kami sempat chaos karena jadwal kapal tidak pasti, sehingga rundown harus diubah total setelah tiba di Nggela saja. Namun, sambutan masyarakat membuat kami merasa seperti pulang ke rumah karena diterima hangat layaknya keluarga sendiri di sini.” ujar Anis.
Jokaju Nggela menjadi ritual istimewa karena kembali dilaksanakan setelah lama terhenti akibat kebakaran besar perkampungan adat pada 2018. Menurut hukum adat, ritual tersebut baru dapat digelar setelah pembangunan kembali rumah adat atau sao paria rampung sepenuhnya.
Anis mengaku merinding melihat keterlibatan seluruh lapisan masyarakat, mulai anak-anak, pemuda, hingga para tetua dalam pelaksanaan ritual adat. Baginya, Tarian Gawi menjadi pengalaman berkesan karena gerakan bergandengan tangan melambangkan persatuan dan kebersamaan masyarakat suku Lio bersama.
Anis mengajak generasi muda memanfaatkan gawai dan media sosial untuk memperkenalkan tradisi lokal kepada masyarakat luas secara daring. Menurutnya, modernisasi dan digitalisasi dapat menjadi sarana promosi budaya, bukan penghalang keberlanjutan tradisi masyarakat adat Nggela di masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....