Konservasi Laut Berbasis Budaya "Muro" terus Diperkuat

  • 13 Jul 2026 17:18 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Lembata – Program konservasi pesisir berbasis budaya terus dikembangkan di Kabupaten Lembata melalui penerapan sistem Muro. Program tersebut dijalankan Plan International Indonesia bersama Yayasan Bina Sejahtera (YBS) Baru sebagai mitra lokal.

Program ini mendapat dukungan pendanaan dari Global EbA Fund dan berfokus pada pelestarian kawasan pesisir berbasis masyarakat. Pendekatan tersebut menggabungkan nilai budaya lokal dengan upaya menjaga ekosistem laut.

Perwakilan Plan International Indonesia di Lembata, Fredrika Rambu, mengatakan kawasan konservasi Muro dibagi menjadi tiga zona. Ketiga zona tersebut meliputi zona inti, zona penyangga, dan zona publik.

"Kami mengembangkan konservasi pesisir berbasis budaya melalui MURO dengan membagi kawasan menjadi tiga zona, yaitu zona inti, zona penyangga, dan zona publik. Zona inti luasnya sekitar 34 hektare, sedangkan zona penyangga mencapai 64 hektare," ujarnya.

Menurut Fredrika, pembagian kawasan dilakukan agar pemanfaatan sumber daya laut tetap berlangsung secara berkelanjutan. Dengan sistem tersebut, masyarakat tetap dapat memanfaatkan kawasan tertentu tanpa mengganggu wilayah yang dilindungi.

Program konservasi ini juga dikembangkan melalui kolaborasi dengan pemerintah desa dan masyarakat setempat. Pendekatan berbasis budaya dinilai menjadi kekuatan dalam menjaga keberlanjutan pengelolaan kawasan pesisir.

Plan International Indonesia berharap sistem Muro dapat terus diterapkan sebagai bagian dari upaya menjaga ekosistem laut. Keberhasilan program tersebut juga diharapkan mampu mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir di Lembata.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....