Anyaman Lontar Ende Didorong Tetap Relevan Kekinian

  • 11 Mei 2026 10:21 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • OBRAS Pro Dua RRI Ende mengangkat edukasi anyaman lontar bagi generasi muda.
  • Daun lontar dinilai memiliki nilai budaya sekaligus potensi ekonomi tinggi.
  • Anak muda didorong membuat produk kekinian berbahan lontar seperti tas dan topi.
  • Workshop anyaman telah melibatkan siswa hingga masyarakat menjelang Festival Daun Lontar Endelio Mei 2026.
  • Minim edukasi dan budaya instan menjadi tantangan pelestarian anyaman lontar.

RRI.CO.ID, Ende - Upaya melestarikan budaya lokal terus digaungkan melalui program “OBRAS” (Obrolan Spada) di Pro Dua RRI Ende yang kali ini mengangkat tema “Edukasi Anyaman Lontar bagi Generasi Muda Ende.” Program tersebut menghadirkan Ketua Panitia Festival Daun Lontar Endelio, Yohanes Borgias, yang juga merupakan guru di SMA Santo Petrus Ende, Sabtu, 4 April 2026.

Yos menjelaskan, edukasi mengenai daun lontar menjadi penting karena semakin banyak anak muda yang mulai melupakan keberadaan serta manfaatnya di tengah perkembangan zaman. Menurutnya, daun lontar bukan sekadar bagian dari tradisi leluhur, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang besar jika dikembangkan secara kreatif dan mengikuti kebutuhan pasar masa kini.

“Anak-anak muda sekarang mulai lupa dengan daun lontar. Padahal, kalau dikelola dengan baik, ini bukan hanya budaya, tetapi juga bisa menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan,” ujar Yos. Ia menekankan bahwa generasi muda perlu melihat anyaman lontar tidak hanya sebagai produk adat, melainkan karya kreatif yang memiliki nilai jual.

Dalam edukasi tersebut, Yos mendorong anak muda untuk berinovasi dalam menciptakan produk berbahan dasar lontar. Jika selama ini anyaman identik dengan bakul adat atau kebutuhan tradisional, maka generasi sekarang didorong menghasilkan produk yang lebih modern seperti topi, tas, dompet, hingga aksesori yang diminati pasar kekinian.

Upaya ini diharapkan dapat menjadikan budaya tetap hidup sekaligus relevan dengan perkembangan zaman. Sebagai langkah nyata, panitia Festival Daun Lontar Endelio telah menggelar berbagai workshop menjelang puncak festival pada Mei 2026.

Kegiatan tersebut melibatkan siswa tingkat SD, SMP, SMA hingga kelompok ibu-ibu untuk belajar menganyam secara langsung. Workshop ini menjadi ruang belajar sekaligus upaya memperkenalkan kembali keterampilan tradisional kepada masyarakat lintas usia.

Meski demikian, Yos mengakui tantangan dalam melestarikan anyaman lontar masih cukup besar. Budaya serba instan membuat sebagian anak muda lebih memilih bahan praktis seperti plastik dibandingkan menganyam yang membutuhkan kesabaran dan ketelatenan.

Selain itu, minimnya edukasi sejak dini di lingkungan keluarga serta terbatasnya muatan lokal di sekolah menjadi hambatan tersendiri dalam pewarisan keterampilan tersebut. Menurut Yos, anyaman lontar tidak hanya menyimpan nilai estetika dan identitas budaya daerah, tetapi juga mengajarkan semangat gotong royong karena proses pembuatannya kerap dilakukan bersama-sama.

Ia pun mengajak generasi muda untuk tetap menjaga warisan leluhur melalui kreativitas dan inovasi. “Budaya itu jati diri kita. Jangan ditinggalkan, tetapi dikembangkan sesuai zaman supaya tetap hidup dan punya nilai ekonomi,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....