Tenun Adonara Didorong Menjadi Identitas Generasi Muda
- 07 Mei 2026 11:31 WIB
- Ende
Poin Utama
- Sanggar Tenun Milenial dibangun untuk menjaga keberlangsungan tenun ikat Adonara.
- Generasi muda diajak melihat tenun sebagai identitas budaya dan peluang ekonomi.
- Setiap motif tenun Adonara memiliki filosofi dan nilai adat tersendiri.
- Promosi melalui media sosial dan modifikasi produk dilakukan untuk menarik anak muda.
- Komunitas tenun turut memberdayakan perempuan dan membantu ekonomi masyarakat.
RRI.CO.ID, Flores Timur - Ketua Sanggar Tenun Milenial Ria Collection, Mariana Tuto Demon, mendorong generasi muda di Adonara dan Flores Timur untuk menjadikan tenun ikat sebagai identitas budaya sekaligus peluang ekonomi kreatif di tengah perkembangan zaman. Hal tersebut disampaikan Mariana dalam program “Bincang Budaya” RRI Ende, Selasa, 5 Mei 2026.
Mariana mengatakan, Sanggar Tenun Milenial Ria Collection dibangun berangkat dari kekhawatirannya terhadap keberlangsungan tenun ikat Adonara yang mulai ditinggalkan generasi muda. Ia menjelaskan, sebagian besar penenun di wilayah Desa Gayak, Goleng, dan Nobo masih didominasi kalangan lanjut usia.
Sementara generasi muda lebih memilih merantau dan menganggap tenun sebagai budaya lama yang tidak relevan. “Kalau orang muda tidak menggeluti tenun, maka setelah mama-mama mereka meninggal, tenun itu bisa hilang dan orang hanya melihatnya sebagai kain biasa,” ujarnya.
Menurut Mariana, setiap motif tenun Adonara memiliki filosofi dan cerita tersendiri yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan adat masyarakat setempat. Ia menyebutkan, penggunaan kain tenun juga disesuaikan dengan momen adat, mulai dari kedukaan hingga upacara sukacita.
“Tenun bukan hanya kain, tetapi jati diri dan harga diri perempuan Adonara,” katanya.
Untuk menarik minat generasi muda, Sanggar Tenun Milenial aktif melakukan edukasi ke sekolah-sekolah, desa-desa, serta memanfaatkan media sosial seperti Facebook dan TikTok untuk memperkenalkan tenun dengan pendekatan modern. Selain itu, kain tenun juga dimodifikasi menjadi berbagai produk turunan seperti pakaian dan aksesori tanpa menghilangkan motif asli warisan leluhur.
Mariana mengatakan, strategi tersebut mulai menunjukkan hasil. Sejak 2022, penggunaan tenun Adonara semakin diminati masyarakat dan berkembang menjadi tren di kalangan anak muda.
Rumah Tenun Milenial juga memanfaatkan bahan pewarna alam serta menghadirkan kualitas kain premium untuk memenuhi kebutuhan pasar modern. Tidak hanya melestarikan budaya, komunitas tersebut juga memberdayakan perempuan, anak putus sekolah, serta janda melalui kegiatan menenun.
“Anak-anak yang memiliki keterbatasan ekonomi bisa datang belajar dan bekerja untuk membantu biaya sekolah maupun kebutuhan sehari-hari,” ujarnya. Mariana menambahkan, kegiatan menenun saat ini telah membantu meningkatkan ekonomi para penenun yang tergabung dalam komunitas Rumah Tenun Milenial.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat tantangan, terutama saat musim adat ketika permintaan kain meningkat, sementara para penenun harus terlibat dalam kegiatan adat di kampung masing-masing. Karena itu, Mariana berharap adanya dukungan pemerintah, khususnya dalam pendanaan dan pendampingan komunitas budaya agar pelestarian tenun ikat Adonara terus berkembang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....