TEKAD Kembangkan Potensi Lokal Bernilai Ekonomi

  • 01 Okt 2026 08:47 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Program TEKAD mendorong masyarakat mengembangkan potensi lokal menjadi produk bernilai ekonomi di 20 desa Kabupaten Manggarai.
  • Kepala Bidang Pembangunan Desa Dinas PMD Kabupaten Manggarai, Paul Gani, mengatakan pengembangan potensi lokal menjadi fokus kegiatan TEKAD.
  • Dana Investasi Kompetitif dilaksanakan di tujuh desa untuk mengembangkan produk pertanian dan peternakan masyarakat. Sementara RITD dikembangkan di dua desa untuk menghasilkan produk jahe dan beras kemasan.
  • Demplot dilaksanakan di 11 desa untuk mengembangkan produk olahan pertanian dan industri kreatif. Kegiatan tersebut melibatkan kelompok masyarakat dengan tetap mengedepankan isu gender dan inklusi.
  • Paul mengatakan tantangan berikutnya adalah pemasaran setelah kelompok mampu menghasilkan produk. “Beberapa produk sudah mengantongi izin dan layak edar,” katanya terkait langkah pemerintah mendukung pemasaran.

RRI.CO.ID, Manggarai – Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD) mendorong masyarakat mengembangkan potensi lokal menjadi produk bernilai ekonomi di 20 desa Kabupaten Manggarai. Pengembangan potensi tersebut dilakukan melalui kegiatan pertanian, peternakan, produk olahan, dan industri kreatif sesuai karakteristik desa.

Kepala Bidang Pembangunan Desa Dinas PMD Kabupaten Manggarai, Paul Gani, mengatakan pengembangan potensi lokal menjadi fokus kegiatan TEKAD. “Pelatihan teknis dilaksanakan mengangkat potensi lokal di 20 desa,” katanya, kepada RRI pada, Selasa 29 September 2026.

Pengembangan dilakukan melalui Dana Investasi Kompetitif, RITD, dan Demplot pada sejumlah desa lokus program. Kegiatan tersebut mencakup pengembangan pertanian, peternakan, jahe, beras kemasan, dan produk olahan.

Dana Investasi Kompetitif dilaksanakan di tujuh desa untuk mengembangkan produk pertanian dan peternakan masyarakat. Sementara RITD dikembangkan di dua desa untuk menghasilkan produk jahe dan beras kemasan.

Demplot dilaksanakan di 11 desa untuk mengembangkan produk olahan pertanian dan industri kreatif. Kegiatan tersebut melibatkan kelompok masyarakat dengan tetap mengedepankan isu gender dan inklusi.

Paul mengatakan tantangan berikutnya muncul pada aspek pemasaran setelah kelompok mampu menghasilkan produk. Menurutnya, produk yang sudah dihasilkan masih membutuhkan akses pasar yang lebih luas agar dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Beberapa produk sudah mengantongi izin dan layak edar,” katanya terkait langkah pemerintah mendukung pemasaran.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....