Menjaga Toleransi di Tanah Minoritas, Umat Katolik Pota Hidup Berdampingan
- 21 Sep 2026 08:22 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende - Manggarai Timur – Umat Katolik di Paroki Pota, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, hidup sebagai kelompok minoritas di tengah masyarakat yang mayoritas memeluk agama lain. Kondisi tersebut tidak menghalangi umat Katolik untuk tetap menjalankan kehidupan keagamaan sekaligus membangun hubungan sosial yang harmonis dengan masyarakat lintas agama.
Berbeda dengan sejumlah wilayah di Flores yang dikenal dengan mayoritas penduduk beragama Katolik, umat Katolik di Pota menghadapi tantangan tersendiri dalam memenuhi kebutuhan rumah ibadah karena jumlah umat yang relatif terbatas. Keterbatasan tersebut turut berdampak pada proses penggalangan dana untuk pembangunan kapela maupun gereja, terlebih sejumlah rumah ibadah mengalami kerusakan akibat gempa bumi Flores 2026.
Meski menghadapi keterbatasan, kehidupan keagamaan umat Katolik di Paroki Pota tetap berjalan dan umat tetap melaksanakan ibadah secara rutin. Kondisi tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Pota yang tetap menjaga semangat kebersamaan di tengah perbedaan agama.
Dalam kehidupan sosial, warga Pota juga terbiasa bergotong royong, melaksanakan kerja bakti, serta saling membantu dalam berbagai kegiatan adat dan keagamaan tanpa membedakan latar belakang agama. Hubungan tersebut menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang bagi masyarakat untuk membangun kehidupan bersama yang harmonis.
"Di Pota toleransi antar sesama warga lintas agama sangat tinggi, mereka selalu saling membantu dalam banyak hal. Ketika umat Katolik ada acara, tetangga yang Muslim datang membantu, begitu juga sebaliknya, itulah kekuatan kami," ungkap Pastor Paroki Pota, Romo Ryan Tagung, Pr, Minggu 20 Sepetember 2026.
Kondisi kehidupan masyarakat Pota juga mendapat perhatian dari Rofinus Monteiro, Ketua Perkumpulan BERGUNA, yang melakukan pelayanan pendampingan bagi penyintas Gempa Flores 2026 di wilayah Manggarai Timur. Rofinus mengaku terkejut karena sebelumnya mengira seluruh wilayah Flores didominasi oleh masyarakat beragama Katolik.
"Saya mengira semua Flores itu mayoritas Katolik, ternyata ada juga daerah minoritas seperti di Pota, Sambi Rampas ini. Tapi saya justru kagum, toleransi di sini luar biasa kuat dan tulus, inilah wajah Flores yang sesungguhnya, kita saling jaga sebagai sesama anak kampung, bukan karena agamanya," ujar Rofinus.
Menurut Rofinus, kehadiran Perkumpulan BERGUNA di Pota tidak hanya untuk memberikan pendampingan kepada penyintas gempa, tetapi juga menjadi kesempatan untuk belajar mengenai nilai kemanusiaan dan kebersamaan yang masih kuat dalam kehidupan masyarakat setempat. Ia menilai semangat saling membantu yang ditunjukkan warga menjadi bagian penting dalam menjaga persaudaraan di tengah keberagaman.
Kisah kehidupan umat Katolik di Paroki Pota menjadi gambaran bahwa toleransi tidak ditentukan oleh posisi seseorang sebagai bagian dari kelompok mayoritas atau minoritas. Kehidupan masyarakat Pota menunjukkan bahwa perbedaan agama dapat tetap berjalan berdampingan ketika dibangun atas dasar saling menghormati, membantu, dan menjaga sebagai sesama warga.
Perkumpulan BERGUNA mengajak masyarakat dan berbagai pihak untuk terus merawat nilai toleransi serta memperkuat solidaritas bagi warga terdampak gempa, termasuk umat Katolik di Paroki Pota. Dukungan terhadap pembangunan kembali rumah ibadah di wilayah tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kebebasan beribadah sekaligus memperkuat semangat kebersamaan masyarakat lintas agama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....