Kardinal Jepang Pelajari Kerukunan Umat Beragama di Kota Rahim Pancasila

  • 20 Jul 2026 07:06 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende – Kunjungan Kardinal Tarcisio Kikuchi Isao, SVD., Uskup Agung Tokyo, dan Mgr. Paulo Narui Daisuke, SVD., Uskup Niigata, Jepang, ke Kabupaten Ende menjadi momentum untuk mempelajari kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk namun tetap hidup rukun. Kehadiran kedua pemimpin Gereja Katolik tersebut bertujuan menggali inspirasi mengenai pengelolaan keberagaman agama, budaya, suku, dan bahasa dalam bingkai persatuan.

Hal itu disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende, Nikolaus Nama Payon, usai menerima kunjungan Kardinal Tarcisio Kikuchi Isao dan Mgr. Paulo Narui Daisuke bersama Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD., di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende, Sabtu, 18 Juli 2026.

Menurut Nikolaus, pertemuan berlangsung dalam suasana dialog yang membahas pengalaman Indonesia dalam menjaga kerukunan di tengah masyarakat yang beragam.

Ia menjelaskan Indonesia memiliki sejarah panjang dalam membangun kehidupan berbangsa dengan menempatkan nilai-nilai agama sebagai bagian dari kehidupan publik melalui berbagai kebijakan negara. Salah satu bentuk nyata dari pengelolaan tersebut adalah keberadaan Kementerian Agama yang mengakomodasi kepentingan seluruh umat beragama tanpa membedakan latar belakang agama maupun kepercayaan.

Model pengelolaan kehidupan beragama tersebut, lanjut Nikolaus, menjadi salah satu keunikan Indonesia yang menarik perhatian para tamu dari Jepang.

Menurutnya, Kardinal Tarcisio Kikuchi Isao dan Mgr. Paulo Narui Daisuke memandang pendekatan Indonesia sebagai sesuatu yang berbeda dibandingkan banyak negara lain. Karena itu, keduanya ingin menyaksikan secara langsung praktik kehidupan masyarakat yang mampu menjaga toleransi dan kerukunan dalam keberagaman.

Melalui Uskup Agung Ende, kedua pemimpin Gereja Katolik tersebut juga meminta kesempatan untuk bersilaturahmi dan berdialog dengan berbagai pihak di Kabupaten Ende. Mereka ingin memahami bagaimana nilai-nilai Pancasila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat yang hidup berdampingan dalam suasana damai.

Nikolaus mengatakan Ende memiliki nilai historis sebagai Kota Rahim Pancasila, sehingga menjadi tempat yang relevan untuk mempelajari semangat persatuan dan kebhinekaan. Menurutnya, kondisi tersebut memberikan gambaran nyata tentang harmonisasi hubungan antarumat beragama di Indonesia.

"Sehingga mereka melalui Uskup Agung Ende meminta waktu untuk bersilaturahmi, mendengarkan, dan menyaksikan langsung suasana kebhinekaan dalam filosofi bangsa Pancasila. Ende yang dikenal sebagai Kota Rahim Pancasila dengan kehidupan kerukunan yang begitu baik menjadi inspirasi yang ingin mereka bawa pulang ke negara mereka," ujar Nikolaus Nama Payon.

Ia berharap kunjungan tersebut semakin memperkuat hubungan persahabatan antara Indonesia dan Jepang, khususnya dalam membangun dialog lintas agama dan budaya. Selain itu, pengalaman Kabupaten Ende dalam merawat kerukunan diharapkan dapat menjadi referensi bagi komunitas internasional dalam membangun kehidupan masyarakat yang damai di tengah keberagaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....