Guru Asal Ende Rajut Toleransi di Sekolah Bali

  • 31 Agt 2026 08:45 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Maria Adelhit Gadika merupakan guru asal Ende yang telah dua tahun mengajar di Bali.
  • Sekitar 20 lulusan PPG dari NTT ditempatkan untuk mengisi kekurangan guru di Karangasem dan Jembrana.
  • Adel mengenalkan budaya dan kekayaan alam NTT kepada siswa melalui Kelimutu dan lagu daerah.
  • Keberagaman agama di sekolah menjadi ruang nyata bagi Adel menerapkan nilai toleransi.
  • Siswa Bali juga menunjukkan kemandirian melalui keterampilan menganyam canang dan keterlibatan dalam kegiatan Banjar.

RRI.CO.ID, Ende - Maria Adelhit Gadika, S.Pd., guru asal Ende, Nusa Tenggara Timur, mengajar selama dua tahun di Bali hingga kini. Ia bertugas di SD Negeri 3 Gegelang, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, setelah menyelesaikan program PPG guru.

Ia berkisah tentang penempatan itu bermula ketika sekitar 20 lulusan PPG dari NTT diarahkan mengisi formasi kekurangan guru di Bali tersebut, di Pro Dua RRI Ende, Senin 6 Juli 2026. Mereka kemudian ditempatkan di Kabupaten Karangasem dan Jembrana untuk memperkuat layanan pendidikan dasar bagi siswa setempat di Bali.

Awal merantau terasa berat bagi Adel karena jauh dari keluarga, lingkungan baru, serta kendala bahasa Bali sehari-hari setempat. Namun keramahan warga membantu adaptasinya, hingga kini Adel merasa betah mengajar dan hidup bersama masyarakat setempat di Bali.

Para siswa menyambut antusias guru dari luar pulau dan aktif bertanya tentang budaya serta wilayah asalnya kepada Adel. Adel mengenalkan Danau Tiga Warna Kelimutu melalui gambar dan YouTube, sekaligus menjelaskan keragaman geografis NTT kepada para siswa.

“Saya mengenalkan Kelimutu supaya anak-anak mengetahui bahwa Indonesia memiliki alam dan budaya yang sangat beragam,” ujar Adel menjelaskan. “Setiap Jumat, kami juga senam bersama menggunakan lagu daerah NTT, termasuk Gemu Fa Mi Re,” katanya.

Adel mengagumi kemandirian siswa yang sudah terbiasa menganyam canang secara manual, meski aktif mengikuti kegiatan keagamaan Banjar setempat. Ia menyesuaikan beban tugas sekolah agar kegiatan belajar tidak mengganggu aktivitas keagamaan siswa sehari-hari di lingkungan mereka setempat.

Di sekolah dengan seluruh siswa beragama Hindu, Adel menemukan ruang nyata menerapkan nilai toleransi dalam kehidupan keseharian bersama. Pengalaman tersebut semakin kaya karena ia mengajar bersama Ibu Sufriati, guru Muslim perantau asal Bima dan Lombok asalnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....