Beda Keyakinan Bukan Alasan Anak Muda Saling Bermusuhan

  • 13 Agt 2026 13:02 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende- Perbedaan keyakinan dan pandangan di tengah perkembangan kehidupan sosial tidak seharusnya menjadi alasan bagi anak muda untuk saling bermusuhan. Generasi muda justru dituntut memiliki kedewasaan dalam menyampaikan perbedaan sekaligus menghormati orang lain. Hal tersebut disampaikan Pater Charles Lamaberaf, S.Fil., M.Sc., saat diwawancarai Pro 2 RRI Ende dalam program Obras atau Obrolan SPADA, Selasa 11 Agustus 2026.

Pater Charles mengatakan, tantangan kehidupan beragama saat ini semakin kompleks karena anak muda dapat berjumpa dengan berbagai pandangan melalui media sosial. Perjumpaan tersebut memberikan kesempatan untuk mengenal keberagaman, tetapi juga dapat memunculkan prasangka apabila tidak disikapi dengan bijaksana. Karena itu, ia mengajak anak muda untuk semakin berakar pada keyakinannya tanpa menjadi tertutup terhadap orang yang berbeda.

Ia menjelaskan, menjadi yakin terhadap agama sendiri tidak berarti harus membenci atau merendahkan kelompok lain. Anak muda dapat memiliki keyakinan yang kuat sekaligus tetap membuka diri terhadap keberagaman yang ada di masyarakat. Ia menegaskan pentingnya prinsip berakar tanpa menjadi tertutup dalam menghadapi perubahan zaman.

Ia juga mengajak generasi muda untuk berani memiliki pandangan yang berbeda dengan orang lain. Namun, keberanian tersebut harus diikuti dengan sikap dewasa berupa kemampuan menghormati orang yang memiliki pendapat berbeda. Ia menyampaikan prinsip sederhana bahwa seseorang dapat mengatakan tidak setuju tanpa harus memusuhi pihak yang tidak sejalan dengannya.

Menurutnya, sikap kritis juga menjadi bagian penting dalam kehidupan anak muda di tengah derasnya informasi digital. Sikap kritis tidak berarti menolak semua hal, melainkan mampu menilai informasi berdasarkan dasar dan nilai yang telah terbentuk dalam diri. Ia menambahkan, filter tersebut membantu seseorang menentukan mana yang tepat untuk diterima dan mana yang perlu ditolak.

Ia juga menilai moderasi beragama bukan berarti membuat seseorang memiliki keyakinan yang setengah-setengah. Moderasi justru mengajarkan seseorang untuk tetap memiliki keyakinan yang kuat sekaligus mampu hidup sebagai manusia yang terbuka terhadap lingkungan dan perkembangan zaman. Ia menyebut anak muda perlu menjadi pribadi yang seratus persen beriman sekaligus seratus persen manusia yang hidup dalam realitas zamannya.

Ia menambahkan, dalam menghadapi perkembangan teknologi dan AI, ia mengingatkan anak muda agar tidak menjadikan perbedaan sebagai sumber konflik. Perkembangan digital seharusnya menjadi ruang untuk memperluas wawasan, membangun komunikasi, dan menemukan pengalaman baru dalam kehidupan sosial. Namun, kebebasan tersebut tetap perlu diiringi tanggung jawab dan penghormatan terhadap sesama.

Ia berharap generasi muda dapat menjadi contoh dalam membangun kehidupan sosial yang menghargai perbedaan. Anak muda diharapkan mampu menunjukkan bahwa keyakinan yang kuat dapat berjalan bersama sikap toleran, terbuka, dan menghormati orang lain. Dengan demikian, keberagaman tidak menjadi sumber permusuhan, tetapi menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan bersama yang lebih damai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....