Pire Te’u di Ndona Dinilai Masih Kuat Menjaga Ketahanan Pangan

  • 28 Jun 2026 19:10 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende – Tradisi Pire Te’u kembali menjadi perhatian dalam upaya menjaga ketahanan pangan masyarakat di Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende. Kearifan lokal tersebut dibahas dalam program Suara Nusantara yang berlangsung di Kantor Desa Manulondo, Sabtu 27 Juni 2026.

Kegiatan yang digelar atas Kerjasama antara Desa Manulondo dan RRI Ende itu menghadirkan tokoh adat, penyuluh pertanian, pemerintah desa, kelompok tani, dan masyarakat setempat. Tema yang diangkat yakni “Pire Te’u dan Ketahanan Pangan: Menguatkan Pertanian Melalui Kearifan Lokal.”

Penyuluh Pertanian Kecamatan Ndona, Jamaludin Said, mengatakan tradisi lokal masih memiliki peran penting dalam mendukung keberlanjutan sektor pertanian masyarakat. Menurutnya, pola pertanian berbasis budaya mampu menjaga hubungan masyarakat dengan alam sekaligus mempertahankan tanaman pangan lokal.

“Nilai-nilai adat sebenarnya masih sangat relevan untuk mendukung pertanian saat ini, terutama dalam menjaga hubungan masyarakat dengan alam dan lahan pertanian,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tantangan pertanian saat ini tidak hanya berkaitan dengan perubahan iklim, tetapi juga semakin berkurangnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian. Karena itu, pendekatan berbasis budaya dinilai dapat menjadi cara untuk memperkuat keterlibatan generasi muda dalam dunia pertanian.

Dalam dialog tersebut, masyarakat juga diajak melihat kembali pentingnya pangan lokal di tengah meningkatnya ketergantungan terhadap bahan pangan dari luar daerah. Diskusi berlangsung interaktif karena warga turut menyampaikan pengalaman mereka dalam menjaga tradisi pertanian turun-temurun.

Sementara itu, Mosalaki Ria Bewa Kampung Nuakota, Porterius Faustinus Kali, menuturkan bahwa Pire Te’u merupakan warisan leluhur yang memiliki makna penghormatan terhadap alam dan sumber kehidupan masyarakat.

Menurutnya, hingga kini masyarakat adat masih mempertahankan sejumlah tradisi sebelum memasuki musim tanam maupun panen sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan ungkapan syukur atas hasil pertanian.

“Pire Te’u bukan sekadar adat, tetapi cara masyarakat menjaga kehidupan dan kebersamaan melalui pertanian,” katanya.

Program Suara Nusantara itu juga menjadi ruang pertemuan antara tokoh adat, pemerintah, dan masyarakat untuk membahas pentingnya menjaga budaya pertanian lokal di tengah perkembangan zaman. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan semakin menyadari bahwa ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada hasil produksi, tetapi juga pada kemampuan menjaga budaya, tanah, dan pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....