Literasi Digital Diperlukan Cegah Polarisasi Agama

  • 20 Jun 2026 11:38 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende – Penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi di media sosial dinilai menjadi ancaman serius bagi kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Kondisi ini mendorong perlunya penguatan dialog lintas iman, literasi digital, dan pendidikan toleransi sejak dalam keluarga.

Dalam dialog OBRAS Moderasi Beragama Pro 2 RRI Ende, Selasa, 16 Juni 2026, Suster Herdiana Randut, SSpS, menyoroti semakin mudahnya prasangka dan sentimen negatif menyebar melalui ruang digital. Menurutnya, ketika agama dijadikan alat untuk membangun sekat antara kelompok masyarakat, ruang dialog yang sehat menjadi semakin sempit dan berpotensi memicu konflik sosial.

Ia menegaskan bahwa toleransi saja tidak cukup untuk menciptakan kerukunan yang kokoh. Toleransi hanya menjadi langkah awal, sementara masyarakat perlu melangkah lebih jauh melalui kolaborasi nyata lintas agama dalam berbagai kegiatan sosial, kemanusiaan, dan pembangunan masyarakat.

Menurut Suster Herdiana, kerja sama antarumat beragama dalam membantu korban bencana, membangun fasilitas umum, atau mengembangkan kegiatan ekonomi kreatif dapat mengikis prasangka yang selama ini tumbuh akibat kurangnya interaksi. "Kerukunan tidak hanya soal hidup berdampingan, tetapi juga tentang membangun rasa saling membutuhkan dan saling menghargai," ujarnya.

Ia juga menyoroti peran media sosial yang memiliki dampak ganda. Di satu sisi, platform digital dapat mempercepat penyebaran hoaks dan ujaran kebencian sebelum klarifikasi dilakukan. Namun di sisi lain, media sosial juga dapat menjadi sarana efektif untuk menyebarkan kisah-kisah inspiratif tentang toleransi, gotong royong, dan persaudaraan lintas iman.

Selain itu, Suster Herdiana menilai keluarga memegang peranan penting dalam menanamkan nilai moderasi beragama. Anak-anak tidak dilahirkan dengan sikap intoleran, melainkan belajar dari lingkungan terdekat. Karena itu, sikap orang tua dalam menghargai perbedaan menjadi fondasi utama bagi tumbuhnya generasi yang inklusif dan terbuka.

Ia menambahkan bahwa generasi muda saat ini memiliki peluang besar menjadi agen perdamaian karena lebih terbiasa berinteraksi dengan berbagai budaya dan agama melalui teknologi digital. Namun, keterbukaan tersebut harus dibarengi kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terpengaruh narasi intoleran yang beredar di ruang publik.

Menutup dialog, Suster Herdiana mengajak masyarakat untuk memulai toleransi dari tindakan sederhana, seperti menyapa tetangga yang berbeda keyakinan, menghormati perayaan keagamaan orang lain, serta lebih bijak sebelum membagikan informasi di media sosial. Langkah kecil tersebut dinilai mampu memperkuat persaudaraan dan menjaga harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....