BGN Ende Dukung UMKM Telur Penuhi Kebutuhan Gizi
- 06 Jun 2026 15:44 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende – Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Ende terus memperkuat keterlibatan pelaku usaha lokal dalam mendukung program pemenuhan gizi masyarakat. Upaya tersebut diwujudkan melalui kunjungan ke peternakan ayam petelur Tunas Baru di Jalan Sam Ratulangi, Kelurahan Paupire, Kecamatan Ende Tengah, Kamis 4 Juni 2026.
Kunjungan dilakukan oleh Koordinator Wilayah BGN Kabupaten Ende, Aliando Djogo, S.IP, bersama Camat Ende Tengah, Yovan Paso. Kehadiran mereka bertujuan meninjau langsung potensi pasokan telur sebagai salah satu bahan baku utama bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Ende.
Aliando Djogo mengatakan kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari surat edaran BGN yang mendorong penguatan ketersediaan bahan baku pangan dari sumber lokal. Menurutnya, pemantauan lapangan penting untuk memastikan kualitas serta kontinuitas pasokan yang dibutuhkan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Kunjungan ini untuk memastikan ketersediaan dan kualitas bahan baku, khususnya telur, karena saat ini Kabupaten Ende belum sepenuhnya mandiri dalam memenuhi kebutuhan dapur MBG,” ujarnya.
Dalam kunjungan itu, rombongan diterima oleh para pekerja peternakan yang sebagian besar merupakan kaum ibu. Mereka juga memperoleh penjelasan mengenai proses produksi telur, mulai dari pemeliharaan ayam petelur hingga tahap distribusi ke konsumen.
Dari hasil peninjauan, BGN menilai kualitas telur yang dihasilkan peternakan Tunas Baru cukup baik dan berpotensi menjadi salah satu pemasok lokal. Namun, kapasitas produksi yang tersedia saat ini masih jauh dari kebutuhan harian SPPG di Kabupaten Ende.
Aliando menjelaskan, peternakan tersebut mampu menghasilkan sekitar 14 rak telur per hari. Sementara itu, kebutuhan telur untuk mendukung operasional SPPG mencapai sekitar 80 hingga 90 rak per hari.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasokan lokal masih perlu diperkuat agar mampu memenuhi kebutuhan secara mandiri. Salah satu solusi yang sedang dipertimbangkan adalah sistem pengumpulan produksi selama dua hingga tiga hari sebelum didistribusikan ke SPPG.
Selain itu, pola distribusi mingguan juga dinilai dapat menjadi alternatif sementara untuk menjaga kesinambungan pasokan. Dalam skema tersebut, proses sortir dan pemeriksaan kualitas nantinya dilakukan oleh pihak SPPG sebelum bahan baku digunakan.
BGN juga terus mendorong SPPG di berbagai wilayah untuk membuka peluang kemitraan dengan UMKM lokal. Tidak hanya telur, kerja sama tersebut mencakup penyediaan komoditas lain seperti ayam dan sayur-sayuran guna memperkuat rantai pasok pangan berbasis daerah.
Meski peluang kemitraan terbuka luas, Aliando menegaskan bahwa setiap pelaku UMKM tetap harus memenuhi persyaratan administrasi yang telah ditetapkan. Persyaratan tersebut diperlukan untuk menjamin akuntabilitas dan kelancaran kerja sama antara UMKM dan SPPG dalam mendukung program pemenuhan gizi masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....