Generasi Muda Jadi Kunci Kerukunan Beragama

  • 03 Jun 2026 09:09 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende – Kerukunan antarumat beragama di Indonesia menghadapi tantangan baru di era digital, mulai dari derasnya arus informasi hingga munculnya sentimen keagamaan di media sosial. Karena itu, penguatan moderasi beragama dan pendidikan toleransi sejak usia dini dinilai menjadi kunci menjaga persatuan bangsa di masa depan.

Pandangan tersebut disampaikan Bruder Hans Ebang dalam dialog Moderasi Beragama yang disiarkan RRI Ende, Selasa, 2 Juni 2026. Menurutnya, meski Indonesia terus menghadapi dinamika sosial dan perkembangan teknologi yang cepat, optimisme terhadap masa depan kerukunan tetap harus dijaga.

Ia menilai keberagaman agama, suku, dan budaya merupakan fondasi yang tidak dapat dipisahkan dari identitas Indonesia. Nilai-nilai Pancasila dan semangat gotong royong yang menjadi dasar berdirinya bangsa selama ini terbukti mampu menjaga harmoni di tengah perbedaan.

Namun demikian, perkembangan media sosial menghadirkan tantangan baru. Informasi yang menyebar cepat sering kali tidak diimbangi dengan pemahaman yang mendalam, sehingga berpotensi memicu kesalahpahaman dan memperkuat sentimen keagamaan, terutama pada momentum-momentum tertentu seperti kontestasi politik.

Bruder Hans menegaskan bahwa pendidikan moderasi beragama harus dimulai dari keluarga dan sekolah. Anak-anak perlu diajarkan untuk menghargai sesama manusia terlebih dahulu, sebelum memahami perbedaan agama, budaya, maupun latar belakang lainnya.

Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam membangun sikap saling menghormati sejak dini. Menurutnya, lembaga pendidikan juga memiliki peran strategis sebagai ruang perjumpaan lintas identitas.

Kurikulum yang inklusif dan lingkungan belajar yang terbuka dapat membantu generasi muda memahami keberagaman sebagai kekuatan, bukan ancaman. Di sisi lain, generasi muda diharapkan mampu memanfaatkan media digital secara bijak.

Keterbukaan terhadap berbagai gagasan harus diimbangi dengan kedalaman pemahaman nilai-nilai agama dan kebangsaan agar tidak mudah terpengaruh narasi yang memecah belah. “Kerukunan tidak lahir dengan sendirinya, tetapi dibangun melalui pendidikan, dialog, dan kesediaan untuk saling memahami. Generasi muda harus menjadi pelopor perdamaian dan penjaga persatuan Indonesia,” ujar Bruder Hans.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....