Pancasila Jadi Kompas Persatuan di Era Digital

  • 31 Mei 2026 11:17 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Ende kembali ditegaskan sebagai kota bersejarah tempat lahirnya perenungan Bung Karno yang melahirkan nilai-nilai Pancasila.
  • Pancasila dinilai tetap relevan sebagai kompas moral dalam menghadapi tantangan era digital.
  • Hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, dan polarisasi media sosial menjadi ancaman baru bagi persatuan bangsa.
  • Literasi digital dan pendidikan kebangsaan dianggap sebagai langkah penting untuk mengendalikan dampak negatif informasi digital.
  • FKUB NTT akan melibatkan generasi muda sebagai agen kerukunan dan literasi digital untuk menjaga perdamaian di ruang maya.

RRI.CO.ID, Ende - Semangat Pancasila yang lahir dari perenungan Bung Karno di Ende dinilai tetap relevan sebagai pedoman menjaga persatuan bangsa di tengah derasnya arus informasi digital. Pandangan tersebut mengemuka dalam Dialog Astacita spesial Hari Lahir Pancasila yang disiarkan RRI Ende, Sabtu, 30 Mei 2026.

Kepala Pusat Studi Pancasila Universitas Flores, Yosef Dentis, mengatakan Ende memiliki posisi historis penting karena menjadi tempat lahirnya gagasan yang kemudian berkembang menjadi dasar negara Indonesia. Menurutnya, nilai persatuan dan perdamaian yang lahir dari Ende harus terus dirawat dalam kehidupan masyarakat modern.

Ia menjelaskan tantangan persatuan saat ini tidak lagi berbentuk penjajahan fisik, melainkan hadir melalui hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, intoleransi, hingga polarisasi di media sosial. Karena itu, Pancasila perlu ditempatkan sebagai kompas moral yang mengarahkan penggunaan teknologi agar tidak merusak kehidupan berbangsa.

“Teknologi adalah alat, sedangkan Pancasila menjadi pedoman agar teknologi digunakan untuk hal-hal yang memperkuat persatuan,” ujar Yosef. Ia menegaskan hoaks mungkin tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, namun dampaknya dapat dikendalikan melalui literasi digital, pendidikan, dan budaya verifikasi informasi.

Sementara itu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Nusa Tenggara Timur, Prof. Yuliana Salosso, menilai media sosial menjadi tantangan terbesar dalam menjaga kerukunan umat beragama saat ini. Penyebaran informasi yang cepat, menurutnya, dapat memicu gesekan apabila masyarakat tidak memiliki kemampuan menyaring dan memverifikasi informasi.

Untuk menjawab tantangan tersebut, FKUB NTT berencana merekrut generasi muda sebagai agen literasi digital dan kerukunan di ruang maya. Program itu diharapkan mampu memperkuat penyebaran konten positif sekaligus menangkal isu-isu negatif yang berpotensi mengganggu persatuan dan perdamaian di Nusa Tenggara Timur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....