Mahasiswa STIPAR Ende Soroti Iman dan Kritik

  • 19 Mei 2026 09:26 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • OBRAS Pro Dua RRI Ende mengangkat tema “Menjadi Indonesia: Antara Iman, Kritik & Tongkrongan”.
  • Narasumber menghadirkan Ketua BLM STIPAR Ende, Gerson Dula Putra.
  • Gerson menyoroti tantangan menyusun regulasi di lingkungan kampus keagamaan.
  • Mahasiswa STIPAR didorong melek politik dan peduli masa depan bangsa.
  • Praktik toleransi diwujudkan melalui Studi Antar Iman dan interaksi lintas keyakinan.
  • Budaya FOMO dikritik karena mengurangi kreativitas serta kepedulian sosial anak muda.
  • Generasi muda diajak menjadi agen perubahan melalui jalur akademis.

RRI.CO.ID, Ende - Program siaran radio OBRAS Obrolan Spada di Pro Dua RRI Ende, mengangkat tema “Menjadi Indonesia: Antara Iman, Kritik & Tongkrongan”. Diskusi yang disiarkan Senin 13 April 2026 itu menghadirkan Ketua Badan Legislatif Mahasiswa STIPAR Ende, Andreas Gerson D. Putra.

Dalam diskusi tersebut, Gerson membagikan pengalaman memimpin lembaga legislatif di lingkungan kampus berbasis keagamaan. Ia mengaku tantangan terbesar justru muncul ketika menyusun aturan organisasi yang mengikat seluruh warga kampus.

“Kadang lebih pusing membaca dan menyusun draf undang-undang organisasi daripada mendengar curhatan mahasiswa,” ujar Gerson. Menurutnya, kepemimpinan di STIPAR menuntut keseimbangan antara pembinaan religius serta kepedulian terhadap masyarakat.

Gerson juga mematahkan anggapan bahwa mahasiswa kampus keagamaan hanya berkutat pada aktivitas rohani semata. Sejak awal perkuliahan, mahasiswa STIPAR disebut mempelajari hukum, norma, serta politik agar tidak apatis terhadap bangsa.

Di tengah keberagaman Kota Ende, praktik toleransi menurut Gerson harus diwujudkan melalui pengalaman nyata sehari-hari bersama. Mahasiswa STIPAR tidak sekadar mempelajari teori agama lain, melainkan berdialog langsung dengan pemeluk keyakinan berbeda.

“Toleransi tidak boleh berhenti sebagai slogan, tetapi dimulai dari saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari,” kata Gerson. Ia juga mengkritik budaya Fear of Missing Out atau FOMO yang membuat sebagian anak muda kehilangan daya kritis.

Pada kesempatan itu, Gerson mengajak generasi muda terus menyuarakan aspirasi melalui jalur akademis yang tersedia kampus. Ia berharap mahasiswa berani menjadi agen perubahan sekaligus memperjuangkan toleransi beragama yang lebih nyata di Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....