Mengasihi Musuh, Mewujudkan Ajaran Yesus Dalam Hidup

  • 10 Sep 2026 09:17 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Penyuluh Agama Katolik Maria Merliana Hore Koten mengajak umat Katolik menghayati ajaran Yesus untuk mengasihi musuh dan berbuat baik kepada orang yang membenci sesuai dengan Injil Lukas 6:27-38.
  • Kasih Kristiani menjadi tantangan karena manusia secara alami cenderung membalas ketika disakiti, dibenci, atau diperlakukan tidak adil.
  • Kasih Kristiani sejati diuji pada saat seseorang berhadapan dengan orang yang mengecewakan, menyakiti, atau memusuhinya.

RRI.CO.ID, Ende - Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende, Maria Merliana Hore Koten, S.Ag., mengajak umat Katolik menghayati ajaran Yesus untuk mengasihi musuh dan berbuat baik kepada orang yang membenci. Pesan tersebut disampaikan Maria dalam program Mutiara Pagi Katolik Pro 1 RRI Ende, Kamis, 10 September 2026, dengan merujuk pada Injil Lukas 6:27-38.

“Memang tidak mudah bagi kita untuk mengasihi orang yang membenci, menyakiti, atau memperlakukan kita dengan tidak adil. Tetapi justru di situlah kasih Kristiani kita diuji,” kata Maria.

Ia mengatakan, manusia pada dasarnya cenderung membalas ketika mengalami perlakuan yang menyakitkan. Karena itu, ajaran Yesus untuk tetap berbuat baik kepada orang yang memusuhi menjadi tantangan iman dalam kehidupan sehari-hari.

“Ketika kita disakiti, kecenderungan kita adalah membalas. Tetapi Yesus mengajarkan sesuatu yang berbeda, yaitu jangan membalas kejahatan dengan kejahatan,” ujarnya.

Maria menegaskan, mengasihi musuh bukan berarti umat harus membiarkan dirinya terus-menerus menjadi korban atau membenarkan tindakan yang salah. Menurut Maria, salah satu bentuk nyata dari ajaran tersebut adalah keberanian untuk mengampuni. Pengampunan, katanya, menjadi jalan untuk membebaskan hati dari kemarahan dan kebencian.

“Mengampuni bukan berarti kita menghapus luka atau mengatakan bahwa kesalahan itu tidak penting. Mengampuni berarti kita menyerahkan luka dan keadilan kepada Tuhan, serta melepaskan keinginan untuk membalas,” ucapnya.

Selain mengajarkan pengampunan, Maria mengingatkan umat agar tidak mudah menghakimi sesama. Setiap orang, katanya, memiliki kelemahan dan pergumulan yang tidak selalu diketahui orang lain.

“Sebelum kita melihat kesalahan orang lain, kita perlu melihat diri kita sendiri. Jangan cepat menghakimi, tetapi mari belajar menjadi pembawa kasih dan kebaikan,” kata Maria.

Ia mengajak umat menerjemahkan pesan Injil tersebut dalam tindakan sederhana setiap hari, mulai dari berhenti membalas, belajar mengampuni, mendoakan orang yang menyakiti, hingga tetap berbuat baik. “Kasih sejati terlihat ketika kita mampu tetap berbuat baik meskipun kita tidak diperlakukan dengan baik. Itulah yang diajarkan Yesus kepada kita,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....