Perempuan Kreatif Soke Dorong Ekonomi dan Lingkungan

  • 27 Apr 2026 11:22 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Perempuan berperan penting sebagai penggerak ekonomi kreatif dan pelestarian lingkungan.
  • Komunitas Soke mengolah limbah tempurung kelapa menjadi produk bernilai ekonomi.
  • Kegiatan komunitas berdampak pada peningkatan pendapatan dan pengurangan limbah.
  • Tantangan utama meliputi keterbatasan alat, waktu, dan konsistensi anggota.
  • Dibutuhkan dukungan pemerintah dan swasta untuk pengembangan komunitas.

RRI.CO.ID, Kupang - Perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan berbasis komunitas, terutama dalam menggerakkan ekonomi kreatif sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Hal ini mengemuka dalam program Pengarusutamaan Gender RRI Ende bertajuk “Perempuan, Kreativitas, dan Lingkungan: Sinergi Tiga Pilar dalam Gerakan Komunitas Soke”, Senin, 27 April 2026.

Ketua Komunitas Soke, Yetty Fangidae, S.Th, mengatakan bahwa keterlibatan perempuan dalam komunitas menjadi langkah penting untuk mengubah paradigma lama yang masih memandang perempuan terbatas pada peran domestik. Menurutnya, perempuan memiliki potensi besar untuk berkarya apabila diberikan ruang dan kesempatan.

Di Komunitas Soke, perempuan didorong untuk mengolah limbah tempurung kelapa menjadi produk bernilai ekonomi, seperti gelas dan kerajinan lainnya.

“Selama ini tempurung kelapa hanya dijual murah sebagai bahan baku. Padahal, jika diolah secara kreatif, nilainya bisa meningkat signifikan dan memberikan tambahan penghasilan bagi keluarga,” ujarnya.

Selain meningkatkan ekonomi, kegiatan tersebut juga berdampak positif terhadap lingkungan. Pengolahan limbah tempurung kelapa membantu mengurangi pencemaran sekaligus mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah secara berkelanjutan.

Yetty menambahkan, komunitasnya juga aktif melakukan edukasi lingkungan melalui kegiatan peduli iklim dan kolaborasi dengan berbagai pihak. Upaya ini bertujuan menanamkan kesadaran bahwa limbah dapat menjadi sumber ekonomi jika dikelola dengan baik.

Meski demikian, ia mengakui terdapat sejumlah tantangan dalam menjaga keberlanjutan gerakan komunitas, seperti keterbatasan alat produksi, konsistensi anggota, serta kesibukan masyarakat dalam aktivitas adat dan pekerjaan sehari-hari.

“Kami terus mendorong anggota untuk tetap produktif meskipun dalam skala kecil. Yang penting ada hasil yang bisa dikumpulkan dan dikembangkan,” ucapnya.

Ke depan, Komunitas Soke berharap mendapat dukungan dari pemerintah dan pihak swasta, terutama dalam penyediaan peralatan dan pelatihan keterampilan, guna meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi.

Melalui gerakan ini, Yetty mengajak perempuan, khususnya di Nusa Tenggara Timur, untuk berani berkarya dan memanfaatkan potensi lokal. “Perempuan harus percaya diri, kita punya kemampuan untuk menghasilkan karya bernilai dan berdampak bagi lingkungan maupun ekonomi keluarga,” katanya.

Program ini menegaskan bahwa sinergi antara perempuan, kreativitas, dan kepedulian lingkungan mampu menjadi kekuatan dalam mendorong perubahan sosial yang berkelanjutan di tingkat komunitas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....