Ende Siapkan Strategi Hadapi Ancaman Kekeringan 2026

  • 23 Apr 2026 11:24 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Kabupaten Ende siapkan langkah mitigasi menghadapi kekeringan 2026.
  • Perbaikan irigasi dan sistem perpompaan jadi strategi utama.
  • MT1 aman, fokus antisipasi dampak pada musim tanam kedua.
  • Petani didorong gunakan benih genjah untuk efisiensi air.
  • Koordinasi pusat-daerah dan peran petani menjadi kunci keberhasilan.

RRI.CO.ID, Ende - Pemerintah Kabupaten Ende melalui Dinas Pertanian menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menghadapi ancaman kekeringan yang diprediksi terjadi pada tahun 2026. Kondisi ini dipicu oleh anomali iklim yang berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan hingga periode panjang.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ende, H. Ibrahim Gadir Dean, S.P., mengatakan bahwa pihaknya telah menerima informasi resmi dari pemerintah pusat terkait potensi fenomena iklim kering yang berlangsung lebih cepat dari biasanya. “Berdasarkan informasi dari Kementerian Pertanian dan BMKG, tahun 2026 diprediksi mengalami kekeringan hingga Oktober, yang seharusnya pada periode tersebut masih terdapat curah hujan cukup tinggi,” ujarnya saat diwawancarai RRI, Kamis, 23 April 2026.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah daerah telah melakukan berbagai upaya mitigasi, di antaranya perbaikan jaringan irigasi tersier, pembangunan sistem irigasi perpompaan dan perpipaan. Selain itu juga optimalisasi sumber air untuk mendukung musim tanam kedua (MT2).

Ia menjelaskan bahwa musim tanam pertama (MT1) di Kabupaten Ende relatif aman dan bahkan diperkirakan memasuki masa panen raya pada awal hingga akhir Mei 2026. Namun, perhatian utama saat ini difokuskan pada MT2 yang berpotensi terdampak kekeringan.

Selain itu, Dinas Pertanian juga mendorong petani untuk menggunakan benih tanaman berumur pendek (genjah) guna mengantisipasi keterbatasan air selama musim kemarau panjang. “Jika terjadi gagal panen, pemerintah akan melakukan intervensi melalui bantuan pangan. Namun, kami berharap langkah-langkah mitigasi ini dapat mencegah hal tersebut,” katanya.

Koordinasi antara pemerintah daerah dan pusat juga terus diperkuat, termasuk melalui rapat koordinasi nasional sektor pertanian yang membahas strategi mitigasi kekeringan. Dukungan anggaran dari pemerintah pusat dinilai penting mengingat keterbatasan fiskal daerah.

Lebih lanjut, keterlibatan kelompok tani menjadi bagian penting dalam upaya mitigasi, terutama dalam pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur pertanian seperti irigasi. Meski demikian, tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah ketidakpastian iklim yang sulit diprediksi. Oleh karena itu, petani diimbau untuk tetap waspada, berkoordinasi dengan penyuluh pertanian lapangan, serta mengelola penggunaan air secara bijak.

Pemerintah juga mengingatkan pentingnya solidaritas antarpetani dalam distribusi air irigasi guna menjaga produktivitas pertanian secara merata.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....