Sinergi Pentahelix Percepat Pengembangan Pariwisata dan SDM Bontang

  • 17 Jan 2026 14:23 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Sektor pariwisata dinilai menjadi tumpuan baru bagi perekonomian Kota Bontang dalam menghadapi tantangan tahun 2026. Di tengah penurunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta kebutuhan transisi menuju era pasca-migas, pembangunan pariwisata dipandang sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.

Dewan Pengurus Cabang Masyarakat Sadar Wisata (DPC MASATA) Kota Bontang menegaskan bahwa akselerasi pembangunan pariwisata bukan lagi sekadar opsi, melainkan sebuah keharusan. Ketua DPC MASATA Kota Bontang, Eko Satrya, menyebut pariwisata memiliki potensi besar sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang berkelanjutan jika dikelola secara terintegrasi dan konsisten.

Menurut Eko, terdapat tiga faktor utama yang melatarbelakangi urgensi penguatan sektor pariwisata. Pertama, penurunan APBD 2026 menuntut hadirnya sumber PAD baru. Kedua, perlunya diversifikasi ekonomi untuk mengurangi ketergantungan ekstrem pada sektor industri konvensional. Ketiga, visi pasca-migas yang mengharuskan Bontang menyiapkan fondasi ekonomi berbasis jasa.

“Pembangunan pariwisata yang terintegrasi akan memicu multiplier effect bagi sektor pendukung seperti transportasi, akomodasi, konsumsi, hingga ekonomi kreatif. Ini adalah mesin baru penciptaan lapangan kerja bagi warga Bontang,” ujar Eko Satrya dalam pernyataan resminya.

Dalam rangka memperkuat sinergi, MASATA juga merencanakan forum dialog bersama organisasi mitra pariwisata dan Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Dispopar Ekraf) Kota Bontang yang baru. Meski sempat dijadwalkan ulang ke pekan berikutnya, penundaan ini dinilai positif agar Dispopar Ekraf memiliki waktu untuk melakukan konsolidasi dan evaluasi internal.

Forum dialog tersebut nantinya akan melibatkan berbagai elemen penting, mulai dari organisasi mitra seperti PHRI, ASITA, HPI, PUTRI, MASATA, hingga POKDARWIS, serta asosiasi lokal pelaku jasa pariwisata lainnya. MASATA berharap forum ini mampu menghasilkan langkah konkret pembenahan sektor pariwisata di tahun 2026.

MASATA juga menekankan pentingnya penerapan sinergi pentahelix, yakni kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, dan media. Menariknya, sektor industri yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Bontang justru didorong untuk menjadi motor penggerak sektor jasa, khususnya pariwisata berbasis edukasi dan pengembangan sumber daya manusia.

Selain itu, MASATA menyoroti pentingnya penyelarasan antara motto Kota Bontang, TAMAN (Tertib, Agamis, Mandiri, Aman, dan Nyaman), dengan nilai-nilai Sapta Pesona. Keselarasan tersebut dirangkum dalam jargon Bontang BERBENAH (BERsama Bangun Energi Pesona Harmoni) sebagai identitas kolektif dalam membangun citra destinasi wisata yang ramah dan berdaya saing.

Eko Satrya menegaskan bahwa modal sosial berupa kerukunan dan keberagaman masyarakat Bontang harus dijaga sebagai kekuatan utama pariwisata. “Tanpa sinergi lintas OPD dan kolaborasi mitra, sulit bagi Bontang untuk tumbuh di sektor jasa. Pariwisata adalah masa depan kita,” ucapnya.

Dengan penguatan kolaborasi, arah kebijakan yang jelas, serta dukungan seluruh pemangku kepentingan, sektor pariwisata diharapkan mampu menjadi pengungkit ekonomi baru Kota Bontang. MASATA optimistis, jika dikelola serius dan berkelanjutan, pariwisata tidak hanya meningkatkan PAD, tetapi juga menjadi solusi nyata penciptaan lapangan kerja di era pasca-migas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....