Labuan Cermin Jadi Geosite Strategis menuju Geopark Nasional
- 09 Jul 2026 07:49 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Berau – Kejernihan air Labuan Cermin yang mampu memantulkan bayangan layaknya cermin bukan sekadar menyuguhkan panorama alam yang memikat. Danau unik dengan dua lapisan air berbeda rasa ini menjadi salah satu geosite strategis yang dinilai dalam proses verifikasi lapangan Geopark Sangkulirang Mangkalihat (GSM) menuju pengakuan sebagai Geopark Nasional.
Tim Verifikasi Lapangan Geopark Sangkulirang Mangkalihat tiba di objek wisata Labuan Cermin, Kecamatan Biduk-Biduk, Kabupaten Berau, Rabu 8 Juli 2026, setelah menempuh perjalanan sekitar empat jam dari kawasan Gua Mengkuris di Kabupaten Kutai Timur. Sebelum menuju lokasi, rombongan terlebih dahulu disambut Sekretaris Daerah Kabupaten Berau, Muhammad Said, di Kecamatan Batu Putih.
Tim verifikasi terdiri atas Mega Fatimah Rosana dari Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran, Yadi Mulyadi selaku Ketua Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, serta Aries Kusworo, Ketua Tim Kerja Warisan Geologi dan Geopark Pusat Survei Geologi, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Setibanya di Labuan Cermin, rombongan disambut Camat Biduk-Biduk Tjipto, kepala kampung, dan pengelola kawasan wisata. Dalam kesempatan tersebut, tim menerima pemaparan mengenai sejarah kawasan, asal-usul penamaan Labuan Cermin, sistem pengelolaan destinasi wisata, serta karakteristik geologi yang menjadi dasar penetapan kawasan tersebut sebagai salah satu geosite penting Geopark Sangkulirang Mangkalihat.
Secara historis, nama Labuan Cermin memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat pesisir. Kata labuan merujuk pada tempat bersandarnya kapal atau perahu nelayan, sedangkan cermin menggambarkan kejernihan air yang mampu memantulkan bayangan layaknya kaca.
Keunikan utama Labuan Cermin terletak pada fenomena alam berupa dua lapisan air dengan karakter yang berbeda dalam satu badan perairan. Lapisan permukaan mengandung air asin akibat intrusi air laut, sementara lapisan di bawahnya merupakan air tawar yang berasal dari mata air yang muncul melalui celah-celah batuan karst di sekitar kawasan. Fenomena hidrologi langka ini membuat Labuan Cermin dikenal sebagai Danau Dua Rasa sekaligus menjadi salah satu situs geologi unggulan dalam bentang alam Geopark Sangkulirang Mangkalihat.

Selain memiliki nilai ilmiah yang tinggi, Labuan Cermin juga memberikan manfaat ekonomi melalui sektor pariwisata. Destinasi ini telah lama menjadi ikon wisata Kabupaten Berau dan pernah masuk dalam daftar 10 Destinasi Wisata Favorit Indonesia versi Kementerian Pariwisata pada 2007. Potensi tersebut menjadikan kawasan ini tidak hanya penting bagi konservasi, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi masyarakat setempat.
Selama kurang lebih satu jam, tim verifikasi melakukan observasi lapangan, berdiskusi dengan pengelola kawasan, serta meninjau berbagai aspek yang menjadi indikator penilaian geosite. Penilaian meliputi nilai warisan geologi, upaya konservasi, tata kelola kawasan, keterlibatan masyarakat, hingga potensi pengembangan edukasi dan geowisata berkelanjutan.
Turut mendampingi kegiatan tersebut jajaran Pemerintah Kabupaten Berau, di antaranya Asisten III Setda Berau Maulidiyah, Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik Andi Marawangeng, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Endah Ernani, serta Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Tentrem Rahayu.
Usai melakukan verifikasi di Labuan Cermin, rombongan melanjutkan agenda dengan bermalam di Biduk-Biduk. Pada Kamis (9/7/2026), tim dijadwalkan meninjau Kompleks Batuan Tersier Batu Sinondok di Kampung Teluk Sumbang yang diperkirakan berusia sekitar 135 juta tahun, sebagai bagian dari rangkaian penilaian geosite di wilayah Berau.
Selama berada di Kabupaten Berau, tim verifikasi akan menilai sejumlah geosite yang tersebar di Kecamatan Biduk-Biduk, Batu Putih, Talisayan, dan Biatan. Rangkaian kegiatan tersebut akan ditutup dengan ekspose hasil verifikasi oleh Tim Geopark Sangkulirang Mangkalihat Kabupaten Berau sebelum rombongan diterima Bupati Berau di Rumah Jabatan pada Jumat 10 Juli 2026.
Verifikasi lapangan ini menjadi tahapan penting dalam proses pengusulan Geopark Sangkulirang Mangkalihat sebagai Geopark Nasional. Melalui proses penilaian tersebut, Pemerintah Kabupaten Berau berharap kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, serta warisan budaya yang dimiliki kawasan Sangkulirang Mangkalihat semakin mendapat pengakuan nasional. Pengakuan tersebut diharapkan mampu memperkuat pengelolaan kawasan berbasis konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan. (DiskominfoBerau-IKP/Er)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....