Dialog Ramadan RRI Ungkap Empat Golongan Dirindukan Surga

  • 14 Mar 2026 10:00 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan - Ramadan bukan sekadar ibadah menahan lapar dan dahaga, melainkan tahapan membentuk karakter manusia agar layak menjadi penghuni surga.

Ustaz Edi Suyanto dalam Dialog Ramadan RRI Tarakan pada Kamis (12/03/2026), menyebutkan ada empat golongan manusia yang dirindukan surga.

Mengutip kitab Durratun Nasikin, bahwa keempat golongan tersebut adalah orang yang gemar membaca Al-quran, menjaga lisan, memberi makan sesama dan yang menunaikan puasa Ramadan dengan penuh keikhlasan.

Ia menyoroti fenomena masyarakat modern yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan ponsel dibandingkan membaca kitab suci. Al-quran jangan sampai hanya menjadi pajangan berdebu di rumah.

"Kita harus punya strategi, minimal one day one ayat. Jangan sampai ibadah kita hanya musiman, giat di bulan Ramadan tapi setelah lebaran kembali ke setelan pabrik," tegasnya.

Terkait poin menjaga lisan, Ustaz Edi memberikan catatan penting mengenai relevansinya di zaman sekarang. Menurutnya, lisan saat ini tidak hanya berupa ucapan mulut, tetapi juga diwakili oleh jari-jari di media sosial.

"Lisan itu tidak bertulang, namun luka yang diakibatkan kata-kata seringkali lebih sulit sembuh daripada luka fisik. Di era digital, menjaga lisan berarti juga menjaga jempol kita agar tidak menulis sesuatu yang memicu perpecahan atau gibah," bebernya.

Kemudian, golongan yang dirindukan surga adalah manusia yang dermawan (Mut’imil Jii’an). Pendengar diajak untuk meningkatkan empati sosial dengan berbagi makanan berbuka (takjil) kepada mereka yang membutuhkan. Tanpa harus bersikap mubazir atau "lapar mata" saat berbelanja.

Terakhir, Ustaz Edi Suyanto mengingatkan para jemaah untuk menjaga konsistensi hingga akhir Ramadan. Ia menyayangkan fenomena masjid yang mulai sepi di akhir bulan karena masyarakat lebih fokus pada persiapan Lebaran di pusat perbelanjaan.

Menutup dialog tersebut, Ustaz Edi menekankan peran vital keluarga dalam membentuk karakter anak, terutama bagi generasi muda saat ini. Ia memberikan perumpamaan "Analogi Teko" untuk menggambarkan pentingnya kebersihan hati. (Bayu/sti)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....