PMI Lombok Barat Uji Sistem Peringatan Dini Banjir Libatkan Warga Sekotong

  • 02 Jul 2026 20:32 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat – Komitmen memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman banjir terus dilakukan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Lombok Barat. Melalui simulasi dan uji coba Early Warning System (EWS) atau Sistem Peringatan Dini Banjir di Kecamatan Sekotong, PMI memastikan seluruh mekanisme penanganan darurat dapat berjalan cepat, terukur, dan efektif ketika bencana benar-benar terjadi.

Kegiatan yang berlangsung pada Kamis 2 Juli 2026 tersebut menjadi bagian dari Program Siap Siaga PMI Lombok Barat 2025–2027. Simulasi diawali dengan Table Top Exercise (TTX) di kawasan Ekowisata Bagek Kembar Mpol, kemudian dilanjutkan dengan simulasi lapangan di Dusun Sekotong I, Desa Sekotong Tengah.

Sebanyak 120 peserta ambil bagian dalam kegiatan itu. Mereka berasal dari berbagai unsur, mulai dari BPBD, BMKG, pemerintah desa, TNI-Polri, relawan PMI, Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT), kelompok rentan, penyandang disabilitas, masyarakat setempat, hingga insan media. Keterlibatan berbagai pihak tersebut menjadi bagian penting untuk membangun koordinasi yang solid dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi.

Staf Divisi Penanggulangan Bencana PMI Pusat, Bramantio Bagus W, menjelaskan bahwa simulasi tersebut bertujuan menguji efektivitas Standar Operasional Prosedur (SOP) Sistem Peringatan Dini Banjir yang telah disusun secara partisipatif bersama masyarakat.

"Kegiatan ini bertujuan memastikan sistem peringatan dini benar-benar dapat diterapkan di lapangan. Kami ingin melihat bagaimana alur komunikasi, penyebaran informasi, hingga proses evakuasi berjalan sesuai SOP yang telah disusun bersama masyarakat," ujarnya.

Menurutnya, simulasi tidak hanya menguji kecepatan penyampaian informasi kepada masyarakat, tetapi juga mengukur kemampuan koordinasi seluruh unsur yang terlibat ketika status siaga banjir ditetapkan. Dengan demikian, setiap pihak memahami tugas dan tanggung jawabnya sehingga proses evakuasi dapat berlangsung lebih cepat, tertib, dan tetap mengutamakan keselamatan masyarakat, terutama kelompok rentan.

Bramantio menambahkan, hasil simulasi akan menjadi bahan evaluasi untuk mengidentifikasi berbagai kendala yang masih ditemukan selama pelaksanaan di lapangan.

"Melalui evaluasi ini, kami dapat menyempurnakan SOP maupun mekanisme koordinasi antarinstansi sehingga kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana banjir semakin kuat," katanya menegaskan.

Sementara itu, Ketua RT Dusun Sekotong Tengah I, Akhyar Rosidi, menyambut positif pelaksanaan simulasi tersebut. Ia menilai kegiatan ini memberikan pengalaman nyata kepada masyarakat mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan sejak menerima informasi peringatan dini hingga proses penyelamatan diri.

"Melalui simulasi ini warga menjadi lebih siap. Kami mengetahui apa yang harus dilakukan mulai dari menerima informasi, mengamankan keluarga, hingga menuju lokasi evakuasi apabila kondisi darurat benar-benar terjadi," katanya.

Menurut Akhyar, keterlibatan masyarakat secara langsung membuat warga semakin memahami jalur evakuasi, sistem penyebaran informasi, serta pentingnya memberikan prioritas kepada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan penyandang disabilitas saat proses evakuasi berlangsung.

Dalam simulasi lapangan, peserta mempraktikkan seluruh tahapan penanganan bencana, mulai dari penerimaan informasi peringatan dini, penyebaran informasi melalui pengeras suara dan media komunikasi desa, persiapan evakuasi warga, pendataan masyarakat terdampak, hingga evaluasi akhir setelah simulasi selesai dilaksanakan. Seluruh skenario dirancang menyerupai kondisi darurat yang sebenarnya agar kemampuan koordinasi, komunikasi, dan respons setiap unsur dapat diuji secara maksimal.

Melalui kegiatan tersebut, PMI Kabupaten Lombok Barat berharap masyarakat di Desa Sekotong Tengah, Desa Cendi Manik, Desa Persiapan Empol, dan Desa Taman Baru semakin siap menghadapi potensi banjir. Penguatan sistem peringatan dini yang didukung koordinasi lintas sektor diharapkan mampu menekan risiko korban jiwa maupun kerugian akibat bencana di wilayah tersebut.

PMI Lombok Barat menilai kesiapsiagaan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau relawan semata, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat. Dengan sistem peringatan dini yang berjalan efektif, proses penyelamatan dapat dilakukan lebih cepat sehingga dampak bencana dapat diminimalkan.

"Semakin siap masyarakat menghadapi ancaman bencana, maka semakin besar pula peluang menyelamatkan jiwa dan mengurangi risiko kerugian ketika banjir terjadi," katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....