SD Wajib Diajarkan Bahasa Inggris, Disdik Tarakan Benahi SDM

  • 16 Jun 2026 19:07 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan - Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menetapkan mata pelajaran Bahasa Inggris wajib diajarkan di jenjang Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan sederajat mulai tahun ajaran 2027/2028. Khususnya bagi siswa dari kelas empat.

Menanggapi kebijakan tersebut, Dinas Pendidikan (Disdik) Tarakan langsung bergerak cepat menyiapkan tenaga pendidik yang kompeten.

Kepala Dinas Pendidikan Tarakan, Tamrin Toha, mengatakan bahwa tantangan utama dalam implementasi kebijakan ini adalah kesiapan guru.

Menurutnya, Bahasa Inggris di SD harus dipegang oleh tenaga pengajar khusus, bukan lagi guru kelas. "Pasti pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan gurunya. Karena ini mata pelajaran yang harus diajarkan di SD, maka yang mengajar harus guru mata pelajaran Bahasa Inggris, bukan guru kelas," ujar Tamrin Toha, Senin (15/6/1026).

Untuk mengatasi kebutuhan guru Bahasa Inggris tersebut, Disdik Tarakan menyiapkan beberapa skema. Di antaranya dengan Bimbingan Teknis (Bimtek) intensif

Lewat skema ini, Disdik bekerja sama dengan UPT Kementerian Pendidikan Dasar serta Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) untuk memberikan pelatihan peningkatan kompetensi bagi guru-guru SD yang ada agar siap mengajar Bahasa Inggris.

Selain itu, pengusulan formasi ASN dengan harapan adanya kebijakan pemerintah pusat membuka formasi resmi bagi guru bahasa asing (termasuk Bahasa Inggris dan wacana Bahasa Prancis) pada seleksi penerimaan Aparatur Sipil Negara (ASN) mendatang.

Selain mengandalkan pelatihan internal, Disdik Tarakan juga berencana menggandeng pihak akademisi untuk mendongkrak kualitas guru.

Tamrin menekankan pentingnya kolaborasi dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Borneo Tarakan (UBT), khususnya jurusan Bahasa Inggris.

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Ia menyayangkan banyaknya guru lokal yang kehilangan kesempatan emas di tingkat nasional maupun internasional seperti program pertukaran guru ke luar negeri yang dibuka kementerian karena kendala skor standardisasi bahasa.

"Kami sadari ketika ada peluang pertukaran guru ke luar negeri, standar (ToEFL/IELTS) yang diminta cukup tinggi, bisa mencapai level 600-an. Kalau guru kita tidak bisa mencapai level ini, bersaing atau mendaftar pun tidak bisa. Makanya, kami berharap ada kerja sama dengan UBT untuk meningkatkan kompetensi guru Bahasa Inggris di Tarakan," bebernya.

Melalui persiapan yang matang sejak dini, Disdik Tarakan optimistis transisi kurikulum baru ini dapat berjalan maksimal demi meningkatkan daya saing global generasi muda di Kota Tarakan. (Rajab)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....