Cuaca Ekstrem, Petani Rumput Laut Diminta Tahan Tanam
- 12 Jun 2026 18:44 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan - Dinas Perikanan Tarakan akan menyusun program kalender tanam rumput laut. Tujuannya memberi acuan waktu tanam yang aman agar petani tidak rugi akibat gagal panen saat cuaca ekstrem dan penyakit ice-ice menyerang.
Kepala Bidang Budidaya Perikanan, Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perikanan Tarakan, Husna Ersant Dirgantara, menyebut program ini sudah lama dirancang tapi baru bisa direalisasikan sekarang.
“Sudah lama cuma belum bisa kita rasakan karena memang kita juga harus merangkul para pembudidaya. Sebetulnya mereka tahulah pada saat bulan ini itu sebetulnya memang saatnya banyak penyakit. Cuman karena harga bagus yang mereka gambling,” ujarnya, Selasa (10/6/2026).
Berdasarkan data tahun lalu, periode Juni-Juli seharusnya jadi musim rawan gagal panen. Tapi tahun ini pola cuaca bergeser.
“Kalau kita merujuk tahun kemarin cuma sekarang cuaca kita ini perubahannya terjadi pergeseran. Malah di bulan Mei sudah terjadi perubahan cuaca. Nah ini yang perlu kita nanti kita sinkronkan dengan pembudidaya baik yang di Amal maupun yang di Tanjung Batu,” jelas Husna.
Penyusunan kalender tidak bisa disamaratakan karena kondisi perairan Tarakan berbeda. Tanjung Batu punya salinitas tinggi 29-31 PPT, sementara Pantai Amal RT 7 ke atas salinitasnya rendah 24-26 PPT.
“Mungkin nanti kita agak bedakan nanti nih antara yang di Pantai Amal sama yang di Tanjung Pasir. Prosesnya lama sebetulnya kalau nanti kita bisa lebih cepat mengumpulkan data dari teman-teman pembudidaya mungkin bisa lebih cepat, diperkirakan makan waktu sekitar 1-2 bulan,” katanya.
Dinas akan turun ke lapangan mengukur suhu air laut, salinitas, dan parameter lain. Data lengkap itu jadi rujukan petani. “Nanti kalau sudah jadi ini bisa jadi rujukan mereka tahu oh ya nanti bulan ini tahan dulu, atau kalau enggak oh ini bagus nih kita bisa produktif,” beber Husna.
Ia mencontohkan petani rumput laut di Sulawesi yang sudah menerapkan pola tahan tanam. Saat kondisi perairan tidak bagus, mereka belum menanam sama sekali, hanya menjaga bibit agar usaha tetap berputar.
“Kita seharusnya tidak usah gatal untuk menanam. Kita tahan dulu. Apalagi bibit yang baru kita tanam ini rawan karena itu kan habis potong tuh kan luka. Kalau luka penyakit tetap masuk. Kalau yang sudah lama di laut 2 minggu sampai 1 bulan sudah kuat, masih bisa bertahan,” paparnya.
Dengan kalender tanam, ia berharap kerugian petani bisa ditekan. Petani tidak memaksakan tanam saat salinitas dan suhu tidak ideal, sehingga bibit tidak mati di awal.
“Setidaknya mengurangi kerugian. Kalau mereka rugi pada saat kondisi perairan tidak bagus, kita tahan dulu,” tegas Husna.
Penyusunan kalender tanam ini jadi langkah preventif Dinas Perikanan Tarakan agar produksi rumput laut tidak terus anjlok seperti April-Mei kemarin akibat cuaca pancaroba. (Rajab)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....