Lonjakan Pengiriman Ribuan Sapi NTB ke Jabodetabek Dipantau Ketat BKHIT NTB
- 21 Mei 2026 21:01 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Barat - Menjelang Hari Raya Idul Adha 2026, arus pengiriman sapi kurban dari Nusa Tenggara Barat terus bergerak masif menuju berbagai daerah di Indonesia, terutama wilayah Jabodetabek. Hingga 17 Mei 2026, tercatat puluhan ribu ekor sapi telah diberangkatkan dengan pengawasan ketat demi memastikan kesehatan ternak tetap aman dan bebas dari ancaman Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
Kepala Balai Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan Nusa Tenggara Barat, Ina Soelistyani, mengungkapkan lalu lintas pengiriman sapi keluar NTB mengalami peningkatan signifikan menjelang Idul Adha tahun ini.
“Per tanggal 17 Mei 2026, total sapi yang keluar dari NTB sudah mencapai 26.800 ekor khusus untuk kebutuhan kurban di Jabodetabek,” ujar Ina saat ditemui RRI di Kantor BKHIT Nusa Tenggara Barat. Kamis 21 Mei 2026.
Ina menjelaskan, frekuensi pengiriman khusus wilayah Jabodetabek mencapai sekitar 1.094 kali pengiriman. Sementara secara keseluruhan, total frekuensi pengiriman ternak dari NTB sejak Januari hingga pertengahan Mei 2026 mencapai sekitar 1.400 kali.
“Kalau total keseluruhan sapi yang keluar dari NTB sejak Januari sampai 17 Mei sudah sekitar 31 ribu ekor. Dari jumlah itu, sekitar 3.000 ekor merupakan pengiriman khusus kebutuhan kurban,” katanya.
Menurutnya, capaian tersebut telah melampaui target awal pengiriman sapi kurban dari NTB yang sebelumnya diproyeksikan sekitar 25 ribu ekor.
Meski lalu lintas ternak meningkat tajam, pihak karantina memastikan kondisi kesehatan sapi tetap aman dan terkendali. Hasil pemantauan lapangan dan laboratorium menunjukkan belum ditemukan indikasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi yang dikirim keluar daerah.
“Sampai saat ini belum ada indikasi PMK ataupun sapi yang mati selama proses pengiriman. Kami juga baru selesai melakukan monitoring di Pulau Sumbawa tepatnya di Pelabuhan Badas dan hasil laboratorium masih negatif PMK,” tegasnya.
Ia menambahkan, hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan bersama dinas terkait juga memperlihatkan kondisi serupa sehingga pihaknya optimistis pengiriman ternak menuju DKI Jakarta berjalan aman tanpa muncul kasus PMK baru.
“Semoga nanti sampai di DKI tidak ada kejadian kasus PMK karena sejauh ini hasil pemeriksaan semuanya masih aman,” ucapnya.
Selain PMK, pengawasan terhadap penyakit Trypanosomiasis juga diperketat. Dari sekitar 7.000 ekor sapi yang dilalulintaskan melalui Pelabuhan Badas, hanya ditemukan empat kasus selama periode Februari hingga April 2026.
“Februari ditemukan dua kasus, Maret satu kasus dan April satu kasus. Semua langsung kami obati dan sembuhkan terlebih dahulu sebelum dikembalikan kepada masyarakat serta tidak dilalulintaskan,” katanya menegaskan.
Menurut Ina, sapi yang terindikasi parasit darah tersebut memang tidak diizinkan untuk dikirim karena dikhawatirkan dapat menyebarkan penyakit ke daerah lain serta memengaruhi kondisi bobot ternak.
“Karena itu parasit darah dan kami tidak ingin menyebar ke daerah lain. Jadi yang ditemukan langsung ditangani,” ujarnya.
Ia juga memastikan hingga saat ini tidak ada kendala berarti dalam proses distribusi hewan kurban dari NTB. Seluruh skema pengawasan telah dipersiapkan jauh hari melalui pembentukan tim satuan tugas lintas instansi.
“Kami sudah membentuk Satgas sejak akhir tahun lalu untuk memastikan lalu lintas hewan kurban berjalan lancar,” katanya.
Ina turut mengapresiasi dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat yang dinilai berperan besar dalam kelancaran distribusi ternak dari NTB menuju berbagai wilayah tujuan.
“Kami berterima kasih kepada tim Satgas termasuk dukungan dari Kemenko Pangan dan Kemenko Infrastruktur yang sangat membantu proses pengiriman hewan kurban ini,” katanya mengakhiri.
Saat ini, pengiriman sapi ke wilayah Jabodetabek mulai berkurang seiring mendekatnya puncak distribusi Idul Adha. Namun, pengiriman reguler menuju Kalimantan seperti Banjarmasin masih terus berjalan rutin.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....