Potret Pilu Pasangan Lansia di Manggarai, Rawat Istri Sakit di Gubuk Reyot

  • 14 Mei 2026 20:44 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai - Sepasang lansia, Blasius Dahas (85) dan Theresia Jiut (80), warga Kumba, Kelurahan Satar Tacik, Kabupaten Manggarai terpaksa menghabiskan masa tua mereka dalam lilitan kemiskinan yang menyayat hati. Tanpa tempat bernaung milik sendiri, keduanya harus bertahan hidup di sebuah gubuk reyot yang berdiri di atas lahan milik orang lain, dengan kondisi bangunan yang nyaris jauh dari standar kata layak.

Sudah sepuluh tahun lamanya, terhitung sejak 2016, pasangan lansia ini merangkai sisa hidup mereka di sebuah gubuk dengan dinding bambu yang kini tampak mulai rapuh dan lapuk dimakan usia. Tanpa lantai yang layak, gubuk itu hanya beralaskan tanah dengan tumpukan pakaian yang berserakan di berbagai sudut.

Di ruang yang sempit itu, segala barang tampak tumpang tindih, deretan gantungan plastik pada balok dinding, lemari kayu berdiri miring bersanding dengan tumpukan kardus-kardus usang. Sungguh miris, begitu melangkah masuk, pandangan langsung tertuju pada sang istri, Theresia yang telah empat tahun terbaring tak berdaya di atas dipan kayu yang sudah lapuk.

Di atas dipan itulah sisa-sisa tenaga mereka direbahkan, meski hanya beralaskan lembaran karung yang penuh sobekan di sana-sini. Kondisi kasur yang tipis, bantal, hingga kelambu yang menggantung tampak begitu usang, kusam, dan kumuh. Semuanya seolah membisu, menjadi saksi betapa getirnya takdir yang harus mereka jalani di masa tua.

Theresia sang istri kini hanya bisa terbaring lemas. Penyakit gula atau diabetes yang dideritanya selama empat tahun terakhir telah merenggut kekuatannya, membuat kedua kakinya tak lagi mampu menopang tubuh untuk berjalan, hingga bergantung sepenuhnya pada kesetiaan sang suami.

Setiap kali hujan mengguyur, ketenangan mereka terusik karena air dengan mudah menerobos masuk, merembes melalui celah-celah dinding serta lubang pada atap seng yang telah berkarat dan bocor. Kondisi di dalam gubuk tersebut pun tak kalah menyayat hati.

Penerangannya sangatlah minim, hanya ada satu lampu kecil di ruang utama, sementara area dapur dibiarkan gelap gulita. Hal ini memaksa Blasius mengandalkan lampu pelita sebagai satu-satunya teman setia, saat dirinya memasak di malam hari.

Lantaran kondisi istrinya, Blasius kini harus mengambil alih seluruh peran rumah tangga sendirian. Di usianya yang telah senja, ia tetap melakukan pekerjaan mulai dari mencuci pakaian hingga memasak dengan kayu bakar menggunakan periuk sederhana. Selain itu, dirinya juga menjadi tumpuan utama merawat dan mendampingi sang istri.

Sementara, terkait bantuan pemerintah, Blasius mengaku telah menerima bantuan sosial berupa beras dan minyak goreng dari kantor kelurahan Satar Tacik. Pada bulan Februari lalu, mereka juga menerima bantuan uang tunai PKH.

Namun, dana tersebut seringkali habis untuk memenuhi kebutuhan pokok yang mendesak, sehingga mereka kerap kesulitan saat harus membeli obat-obatan untuk istrinya atau kebutuhan lainnya.

Kepada RRI, ia mengeluhkan kesulitan untuk membeli obat-obatan buat istrinya. "Saya sekarang ini tidak ada pegang uang sepeser pun," ujarnya Kamis, 14 Mei 2026.

Meski hidup dalam keterbatasan fisik dan ekonomi, secercah harapan datang dari kepedulian sesama. Setiap hari Sabtu, suster dari Biara BPS datang membawakan komuni untuk keduanya.

Ketua RT setempat, Kosmas Taur kepada RRI mengisahkan gubuk yang dihuni pasangan lansia tersebut merupakan hasil gotong royong yang ia bangun bersama anak-anaknya. "Itu rumah, bukan rumah-lah tapi pondok, itu saya yang bangun dengan saya punya anak-anak," ungkapnya.

Kosmas juga menuturkan bahwa Blasius sering datang ke rumahnya untuk keperluan mandi maupun mencuci pakaian. Selain itu, Kosmas juga kerap memberikan bantuan berupa sayur-sayuran, seperti labu dan daun singkong, untuk membantu kebutuhan makan pasangan lansia tersebut.

Kosmas berharap adanya tangan-tangan dermawan yang tergerak untuk membantu warganya tersebut. "Siapa saja yang datang untuk kasih bantuan ke Bapak Blasius ini, saya rasa senang sekali, yang terpenting dengan hati yang tulus. Warga saya sangat perlu bantuan," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Manggarai melalui Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial, Heri Pedo, mengungkapkan bahwa kondisi pasangan lansia di Kelurahan Laci Carep tersebut juga menjadi perhatian serius dinas.

Heri menjelaskan, pasangan lansia tersebut belum memiliki kartu keluarga, padahal dokumen tersebut menjadi syarat utama usulan bantuan sosial dari Kemensos. "Untuk usul bansos wajib ada Kartu Keluarga. Hari Senin kami akan bantu urus KK-nya di Kantor Capil," ujar Heri via pesan WhatsApp.

Heri menambahkan, pihaknya juga sedang berupaya menggalang bantuan donasi bagi pasangan lansia tersebut. Langkah itu dilakukan sebagai respons cepat Dinas Sosial bersama komunitas Cama Momang yang selama ini aktif membantu warga yang mengalami kesulitan, terutama kondisi memprihatinkan yang dialami Blasius dan Theresia.

Kisah Blasius dan Theresia adalah potret nyata kemiskinan ekstrem yang masih menghimpit masyarakat lansia. Di tengah kondisi gubuk reyot, dipan lapuk, kusam dan kumuh, kegelapan dapur yang hanya ditemani lampu pelita, keduanya masih terus berjuang, saling menjaga dalam sisa usia yang ada.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....