Lingkungan Pertemanan Jadi Pemicu Anak Muda Pakai Narkoba
- 12 Mei 2026 13:53 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Salah satu indikator penyebab banyaknya anak muda terjerat narkoba berasal dari pengaruh lingkungan pertemanan. Lingkar pergaulan dinilai menjadi faktor utama seseorang pertama kali mencoba narkoba, terutama saat hubungan sosial tidak memiliki batas yang sehat.
Hal itu disampaikan Dokter Ahli Muda BNN Kota Samarinda, Candra Ramadhanny, saat menjadi narasumber dalam obrolan SPADA Pro 2 RRI Samarinda dikutip Selasa, 12 Mei 2026. Ia menyebut, peran teman menjadi penyebab paling dominan dalam kasus penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja dan generasi muda.
“Nomor satu penyebab orang pertama kali pakai narkoba memang dari teman pergaulan,” ujarnya.
Candra menilai, generasi muda perlu lebih selektif dalam memilih lingkungan sosial. Menurutnya, kualitas pertemanan jauh lebih penting dibanding jumlah teman. “Yang paling penting untuk generasi muda, kita itu bukan cari banyak-banyak teman, tapi kualitas. Dari penelitian seumur hidup, kita hanya butuh dua sampai lima orang teman rata-rata seumur hidup,” katanya.
Ia menjelaskan hubungan sosial tetap penting untuk membangun jaringan dan berbuat baik kepada sesama. Namun, kedekatan emosional harus dibangun dengan mempertimbangkan kualitas individu di dalam lingkar pertemanan.
“Kita kenal dan berbuat baik sama orang tanpa mengharap balik. Kita buat baik, tapi untuk dijadikan teman kita harus perhatikan kualitas,” ucapnya.
Selain selektif memilih teman, Candra juga menekankan pentingnya menerapkan batasan atau detachment saat menghadapi teman yang mulai terjerumus narkoba. “Kalau dia sudah pakai narkoba, ya sudah kita punya boundaries. Kita enggak ikut-ikutan, kita sudah menasihati, enggak bisa juga membenarkan perbuatannya,” katanya, menambahkan.
Meski menjaga jarak, ia menilai dukungan untuk proses pemulihan tetap perlu diberikan kepada pengguna narkoba. “Tapi kita tetap bantu niat kalau nanti kamu mau rehab, walaupun enggak mau sekarang, ini saya berikan kontaknya,” ujarnya.
Konsep detachment, menurut Candra, juga penting diterapkan dalam hubungan keluarga maupun pasangan agar seseorang tidak memiliki ketergantungan emosional berlebihan. “Kita berteman, punya pasangan, punya keluarga itu enggak boleh bucin istilahnya. Ikatan emosionalnya enggak terlalu kuat. Harus ada detachment,” katanya.
Selain itu, ia mengingatkan generasi muda untuk belajar nyaman dengan diri sendiri atau solitude. Kemampuan menikmati waktu sendiri dinilai menjadi cara efektif menghindari tekanan sosial dan lingkungan negatif. “Kalau misalnya temannya enggak ada yang baik, harus cukup untuk sendirian,” ucapnya.
Ia menilai, stigma terhadap orang yang sering sendiri justru perlu diubah. Menurutnya, menikmati waktu sendiri tidak selalu berarti kesepian. “Sendirian itu bukan berarti kita kesepian. Memang sudah cukup dengan diri saya,” ujarnya.
Candra menambahkan, memilih lingkungan pertemanan bukan tindakan yang salah, terutama jika lingkar sosial tersebut membawa pengaruh negatif hingga mengarah pada penyalahgunaan narkoba.
“Kalau lingkungan atau teman-temannya tidak mendukung kita untuk maju, mending enggak usah. Apalagi kalau mengajak ke arah buruk sampai bawa narkoba,” katanya, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....