Anggota DPRD NTB Soroti Bahaya Media Sosial bagi Generasi Muda
- 12 Mei 2026 10:16 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Dampak negatif perkembangan teknologi informasi dan media sosial dinilai semakin memengaruhi pola pikir masyarakat, khususnya generasi muda dan kalangan ibu rumah tangga. Media sosial ibarat “pisau bermata dua” yang memiliki sisi positif sekaligus risiko besar apabila tidak digunakan dengan bijak.
Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat Made Selamet mengatakan, masyarakat saat ini cenderung lebih percaya pada informasi di dunia maya dibandingkan realitas di lingkungan sekitar. Kondisi tersebut dinilai memicu berbagai persoalan sosial, mulai dari penipuan hingga tindak kriminal, seperti pencurian dengan kekerasan dan curanmor.
“IT ini memang seperti pisau bermata dua. Di satu sisi ada hal positifnya, tetapi di sisi lain kalau salah penggunaan, banyak kerugian yang ditimbulkan. Generasi muda menjadi salah satu yang paling terdampak,” ujarnya, Selasa 12 Mei 2026 kepada rri.co.id.
Ia juga menyoroti fenomena kecanduan media sosial yang kini tidak hanya dialami anak-anak muda, tetapi juga kalangan ibu rumah tangga. Menurutnya, sebagian masyarakat terlalu larut dalam dunia maya hingga mengabaikan kehidupan sosial nyata.
“Parahnya sekarang mereka lebih percaya pada dunia maya dibanding dunia nyata. Bahkan kepada orang yang belum dikenal pun bisa langsung percaya,” katanya.
Politisi PDIP NTB ini mengaku prihatin dengan perubahan pola pikir masyarakat yang dinilai terjadi sangat cepat. Ia mencontohkan, masyarakat lebih mudah mengikuti tren di media sosial dibanding menerima edukasi terkait kedisiplinan dan kepedulian sosial di kehidupan sehari-hari.
“Kadang diajak untuk hal-hal sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan saja sulit. Tapi kalau informasi di media sosial cepat sekali dipercaya,” ungkapnya.
Menurutnya, kondisi tersebut juga berdampak pada menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap tokoh-tokoh di lingkungan nyata. Sebaliknya, pengaruh figur di media sosial justru semakin dominan.
Ia menilai pemerintah tidak boleh menutup mata terhadap persoalan tersebut. Beberapa kebijakan pembatasan usia pengguna media sosial dinilai menjadi langkah awal yang baik, meski implementasinya masih lemah karena kurangnya pengawasan orang tua.
“Anak-anak di bawah usia tertentu seharusnya tidak memiliki akun media sosial. Tapi kadang justru orang tua yang membiarkan, bahkan mendukung,” katanya.
Untuk mencegah dampak negatif media sosial, Made Selamet mendorong adanya edukasi digital sejak dini melalui sekolah. Ia mengusulkan agar literasi digital dimasukkan dalam muatan lokal maupun program sosialisasi yang melibatkan berbagai pihak.
“Kita harus bentengi anak-anak sejak awal. Sekolah perlu melakukan sosialisasi dan pendidikan tentang penggunaan media sosial yang sehat,” ujarnya.
Selain sekolah, ia juga meminta aparat kepolisian lebih aktif melakukan langkah preventif, tidak hanya menunggu laporan masyarakat terkait tindak kejahatan berbasis digital.
“Polisi jangan hanya menunggu laporan. Pencegahan juga penting dilakukan melalui sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat,” jelasnya.
Wakil rakyat dapil Kota Mataram ini menilai, maraknya penyalahgunaan media sosial terjadi karena masyarakat menerima perkembangan teknologi tanpa persiapan yang memadai. Akibatnya, masyarakat mudah terpengaruh dan belum memiliki kesiapan dalam menyaring informasi.
“Di negara lain biasanya ada persiapan sebelum teknologi dilepas secara luas. Kalau di kita seolah langsung dilepas begitu saja tanpa kesiapan, akhirnya masyarakat kaget dan mudah terpengaruh,” ungkapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....