BPS: Jember Alami Deflasi 0,44 Persen pada April 2026
- 07 Mei 2026 01:36 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jember mencatat terjadi deflasi sebesar 0,44 persen secara bulanan (month to month) pada April 2026.
Kondisi ini dipicu terutama oleh turunnya harga sejumlah komoditas pangan pasca Hari Raya Idul Fitri.
Kepala BPS Jember, Peni Dwi Wahyu Winarsi, menjelaskan deflasi didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami penurunan sebesar 1,46 persen.
“Penurunan harga terjadi pada komoditas seperti daging ayam ras, cabai rawit, dan telur ayam ras. Hal ini seiring menurunnya permintaan setelah Lebaran,” ujarnya.
Selain komoditas pangan, penurunan harga juga dipengaruhi beberapa komoditas lain seperti emas perhiasan serta angkutan antarkota.
Secara umum, komoditas tersebut menjadi penyumbang utama deflasi di Jember pada April.
Meski secara bulanan mengalami deflasi, BPS mencatat inflasi tahunan (year on year) Jember masih berada di angka 2,88 persen. Sementara inflasi tahun kalender (year to date) tercatat sebesar 1,05 persen.
Di sisi lain, sejumlah komoditas tetap memberikan andil inflasi. Di antaranya minyak goreng, bahan bakar rumah tangga, tahu mentah, tempe, tomat, serta nasi dengan lauk.
Statistisi Ahli Muda BPS Kabupaten Jember, Meri Vita Zulfa Faizatin, menambahkan kenaikan harga bahan bakar rumah tangga turut dipengaruhi oleh penyesuaian harga LPG, baik subsidi maupun nonsubsidi.
“Kenaikan ini merupakan dampak dari penyesuaian harga LPG 3 kilogram pada Maret, serta kenaikan LPG nonsubsidi pada 18 April yang efeknya masih berlanjut,” katanya.
Sementara itu, kenaikan harga nasi dengan lauk tidak hanya dipengaruhi bahan baku seperti beras dan minyak goreng, tetapi juga biaya kemasan.
“Dari hasil pemantauan responden, kenaikan harga juga dipicu oleh meningkatnya biaya kemasan seperti plastik,” tambahnya.
Menurutnya, setiap perubahan harga komoditas akan berdampak pada inflasi maupun deflasi, tergantung pada tingkat konsumsi masyarakat terhadap komoditas tersebut.
“Apabila nilai konsumsi (bobot) suatu komoditas besar maka berpeluang menyumbang andil inflasi atau deflasi suatu komoditas,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....