Alumni Unmuh Jember Selamatkan Ibu Melahirkan di Pesawat

  • 18 Mar 2026 22:59 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Perjalanan panjang dari Jeddah menuju Jakarta yang seharusnya menjadi waktu beristirahat bagi Febrian Rahmatulloh berubah menjadi momen penuh ketegangan—sekaligus panggilan kemanusiaan yang tak terduga.

Di ketinggian ribuan kaki, di dalam kabin pesawat yang melaju melintasi langit, seorang ibu melahirkan, dan Febrian ada di sana, menjadi bagian penting dalam proses penyelamatan dua nyawa.

Peristiwa itu terjadi pada Kamis, 12 Maret 2026, dalam penerbangan Saudia Airlines. Sekitar satu jam setelah lepas landas, suasana kabin mendadak berubah.

Pengumuman dari awak pesawat memecah keheningan mereka membutuhkan tenaga medis. Tanpa ragu, Febrian, seorang perawat dan alumni Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember—langsung berdiri dan memperkenalkan diri.

Langkahnya cepat diarahkan menuju area salat di dalam pesawat. Di sanalah situasi genting sudah menunggu. Seorang penumpang perempuan terbaring, berada di ambang persalinan. Bahkan, saat Febrian tiba, kepala bayi sudah terlihat.

“Waktu itu tidak ada banyak pilihan. Harus segera bertindak,” kenang Febrian, Selasa 17 Maret 2026.

Dengan peralatan seadanya, ia meminta sarung tangan, oksigen, dan alat pengukur saturasi dari awak kabin. Dalam ruang sempit dan fasilitas terbatas, proses persalinan pun berlangsung. Beberapa menit yang menegangkan berlalu, hingga akhirnya tangisan bayi memecah suasana sebuah tanda kehidupan yang berhasil diselamatkan di tengah keterbatasan.

Namun perjuangan belum selesai. Untuk mencegah hipotermia, bayi segera dibungkus selimut. Tak lama kemudian, bantuan datang: dua dokter dan satu perawat turut bergabung. Bersama-sama, mereka menangani proses lanjutan, termasuk pemotongan tali pusar dan memastikan kondisi ibu serta bayi stabil.

Keputusan cepat pun diambil. Setelah berkoordinasi dengan kapten, pesawat melakukan pendaratan darurat kembali di Bandara Jeddah. Setibanya di darat, tim medis bandara langsung mengambil alih penanganan, termasuk membantu proses pengeluaran plasenta sebelum ibu dan bayi dirujuk ke rumah sakit terdekat.

Penerbangan sempat tertunda, namun akhirnya dilanjutkan kembali menuju Jakarta pada pukul 08.00 pagi. Seluruh penumpang tiba dengan selamat, membawa kisah yang tak akan terlupakan.

Belakangan diketahui, ibu yang melahirkan merupakan warga Indonesia asal Lombok yang melakukan perjalanan seorang diri. Ia bahkan tidak menyadari bahwa dirinya sedang hamil sebuah fakta yang menambah dramatis peristiwa tersebut.

Bagi Febrian, pengalaman ini menjadi yang pertama sekaligus paling menegangkan sepanjang kariernya sebagai tenaga kesehatan.

“Jujur saya sempat kaget dan deg-degan. Tapi sebagai perawat, kita harus tetap profesional dan melakukan yang terbaik,” ujarnya.

Ia mengakui, tantangan terbesar adalah keterbatasan alat medis di dalam pesawat. Berbeda dengan fasilitas kesehatan yang lengkap dan steril, kondisi di udara menuntut kecepatan berpikir, ketelitian, dan kemampuan beradaptasi.

Lulusan S1 Keperawatan dan Profesi Ners tahun 2021 ini memang telah ditempa oleh berbagai pengalaman. Mulai dari bekerja di rumah sakit di Jember hingga akhirnya berkarier di Armed Forces Hospital Taif, Arab Saudi, ia kini bertugas di pusat layanan kesehatan mental.

Namun kejadian di atas pesawat itu mengingatkannya pada esensi profesinya.

“Di mana pun kita berada, tenaga kesehatan harus siap membantu. Ilmu yang kita punya bisa menyelamatkan nyawa,” katanya.

Lebih dari sekadar keterampilan medis, Febrian menegaskan bahwa profesi tenaga kesehatan juga berakar pada nilai kemanusiaan dan empati.

Di tengah langit yang luas, tanpa ruang operasi, tanpa alat lengkap, ia membuktikan satu hal bahwa dedikasi dan keberanian bisa hadir di mana saja bahkan di antara awan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....