Evaluasi Kesiapsiagaan dan Penguatan Data Bencana di Kalimantan Timur

  • 24 Feb 2026 14:26 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Operator Pusdalops BPBD Provinsi Kalimantan Timur, Muriono, menyampaikan penguatan struktur di tingkat tapak menjadi prioritas utama dalam kebencanaan. Terutama pada aspek kelembagaan dan kesiapsiagaan di tingkat desa dan kelurahan. Hal itu disampaikan Muriono saat dialog interaktif bersama RRI, dalam program Halo Kaltim Pro1 Samarinda.

Menurutnya, selain Kampung Siaga Bencana (KSB) yang dibentuk oleh Dinas Sosial, di lingkungan BPBD juga dikenal program Desa Tangguh Bencana (Destana) dan Kelurahan Tangguh Bencana (Katana). Ia mengakui bahwa pembentukan saja tidak cukup tanpa penguatan kapasitas dan monitoring berkelanjutan.

“Kalau di BPBD ada istilahnya Destana dan Katana. Memang sudah ada di beberapa wilayah, tetapi berdasarkan evaluasi kami belum maksimal,” ucap Muriono kepada RRI, dikutip Selasa 24 Februari 2026.

Muriono menegaskan, garda terdepan penanganan bencana berada di tingkat masyarakat. Informasi awal kejadian, kondisi lapangan, hingga kebutuhan mendesak harus segera terlaporkan secara akurat. Untuk mempercepat proses tersebut, BPBD Provinsi berkolaborasi dengan TNI dan Polri melalui Bhabinkamtibmas dan Babinsa di lapangan.

Validasi data dilakukan bersama instansi terkait seperti Dukcapil dan Badan Pusat Statistik agar bantuan logistik tepat sasaran. Dengan sistem pendataan yang akurat, distribusi bantuan dapat meminimalkan kesalahan serta menghindari tumpang tindih penerima manfaat. “Data by name by address sangat diperlukan,” ujar Muriono.

Selain penguatan data, rencana kontinjensi di tingkat kabupaten/kota juga kembali ditekankan. Dokumen tersebut memuat skenario risiko, kebutuhan sumber daya, serta pembagian peran lintas sektor. “Rencana kontinjensi sangat diperlukan untuk wilayah yang memiliki potensi bencana tinggi,” kata Muriono.

Ia mengimbau masyarakat Kalimantan Timur untuk tetap waspada menghadapi puncak musim penghujan hingga pertengahan Februari. “Musim penghujan diprediksi berakhir di bulan April, mundur satu bulan dari biasanya. Setelah itu kita perlu bersiap menghadapi musim kemarau yang berpotensi memicu karhutla,” ucapnya.

Prediksi peralihan musim ini menjadi perhatian penting, mengingat Kalimantan Timur rawan terhadap dua ancaman sekaligus, yaitu banjir saat musim hujan dan kebakaran hutan serta lahan saat musim kemarau. Oleh sebab itu, kesiapsiagaan tidak boleh berhenti pada satu musim saja, melainkan harus berkelanjutan sepanjang tahun.

Dengan kolaborasi lintas sektor, penguatan Destana dan Katana, serta validasi data berbasis nama dan alamat, diharapkan sistem penanganan bencana di Kalimantan Timur semakin responsif dan terkoordinasi. Kesiapsiagaan kolektif menjadi fondasi utama dalam melindungi masyarakat dari risiko bencana yang dapat terjadi kapan saja.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....