Jumlah produksi Sampah di Manggarai Capai 24 Ton Per Hari
- 12 Feb 2026 11:32 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Manggarai mencatat produksi sampah di wilayah perkotaan Ruteng mencapai sekitar 20 hingga 24 ton per hari. Dari jumlah tersebut, 11 hingga 15 ton berhasil diangkut setiap hari, sementara sekitar 5 hingga 9 ton lainnya belum tertangani akibat keterbatasan armada dan anggaran operasional.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Kabupaten Manggarai, Antonius Hani, kepada RRI, Rabu, 11 Februari 2026, menjelaskan, komposisi sampah didominasi sampah plastik yang mencapai sekitar 25–26 persen dan sebagian besar berasal dari rumah tangga. Selain itu, sampah kayu dan ranting menyumbang sekitar 17 persen, sedangkan kertas dan karton mencapai sekitar 12 persen.
Sementara sampah anorganik bernilai ekonomi seperti karton, buku, botol plastik air mineral, dan kaleng yang disalurkan ke pengepul atau pihak ketiga (PTA) berkisar 500 hingga 700 kilogram per hari, atau sekitar 0,5 persen dari total timbulan sampah. Antonius menyebut, hingga saat ini sistem pengelolaan sampah di Kabupaten Manggarai masih menggunakan sistem open dumping, yakni sampah dibuang secara terbuka ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tanpa melalui proses pengolahan lanjutan.
Sampah yang telah dibuang ke TPA hanya dilakukan penimbunan sekali dalam setahun dengan menggunakan alat berat sewaan. Berdasarkan data tahun 2024, upaya pengurangan sampah melalui aktivitas pengepul baru mencapai sekitar 291 kilogram per hari, atau 2,6 persen dari rata-rata 11 ton sampah yang masuk ke TPA setiap harinya. Sementara, sekitar 10 ton per hari masih terbuang tanpa pengolahan lebih lanjut akibat keterbatasan sumber daya. “Masih banyak sampah yang belum terangkut karena keterbatasan armada. Selain itu, kami juga tidak dapat melakukan pengangkutan lebih dari dua kali dalam sehari karena keterbatasan anggaran BBM,” ujarnya.
DLH juga mencatat, volume sampah tertinggi berasal dari tiga kelurahan, yakni Kelurahan Tenda, Poco Mal, dan Satar Tacik. Dari ketiga wilayah tersebut, sampah yang berhasil diangkut setiap hari berkisar satu hingga satu setengah ton. Proses pengangkutan dilakukan menggunakan dump truck dan kendaraan roda tiga yang kemudian dialihkan ke sejumlah depo penampungan sementara.
Di Kecamatan Langke Rembong sendiri, saat ini terdapat enam depo atau tempat penampungan sementara (TPS), yakni Depo Puni, Depo Lawir, Depo Perumnas, Depo Pasar Inpres, Depo Kecamatan Langke Rembong, dan Depo Terminal Carep. Masing-masing depo melayani pengangkutan sampah dari kelurahan sesuai dengan zona pelayanan yang telah ditetapkan.
Untuk menunjang operasional pengangkutan, DLH mengoperasikan tujuh armada, terdiri atas empat armada ambrol dan tiga dump truck, dengan satu dump truck khusus melayani wilayah Reo. Namun demikian, keterbatasan armada kerap memicu penumpukan sampah, terutama ketika terjadi kerusakan kendaraan atau penerapan sistem pinjam armada antar depo. “Jika satu dump truck mengalami kerusakan, maka dapat dipastikan terjadi penumpukan sampah. Kondisi ini juga dialami wilayah Wae Ngkeling yang hingga kini belum memiliki armada sendiri dan masih mengandalkan sistem pinjam dari depo lain,” ucap Antonius.
Ia berharap, melalui program dana pinjaman daerah, persoalan keterbatasan armada dan pengangkutan sampah dapat diminimalkan. “Kami optimistis, apabila armada pengangkut mencukupi, proses pengangkutan sampah dapat berjalan lebih lancar dan Kota Ruteng menjadi lebih bersih,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....