Mangrove Subur, Rezeki Petambak Tradisional Kaltara Melimpah
- 04 Feb 2026 07:43 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan – Jufri, seorang petambak tradisional di Kalimantan Utara, hutan mangrove bukan sekadar deretan pohon di tepi tambak, melainkan napas kehidupan yang memberi makan keluarga. Di tengah keraguan banyak rekan seprofesi, ia membuktikan bahwa menjaga kelestarian lahan basah justru menjadi kunci utama meningkatnya produktivitas hasil laut, terutama kepiting dan udang yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat pesisir.
Sejak mulai menanam kembali mangrove di lahan tambak miliknya pada tahun 2010, Jufri merasakan perubahan besar pada kesuburan tanah dan kualitas air. Ia meyakini bahwa alam memiliki cara sendiri untuk membalas budi; semakin rimbun pepohonan yang dijaga, semakin banyak nutrisi alami yang tersedia bagi komoditas tambak, yang pada akhirnya meningkatkan nilai jual di pasar lokal maupun ekspor.
Pendekatan yang dilakukan Jufri didasari pada nilai spiritual bahwa menjaga alam adalah bentuk ibadah dan amanah sebagai khalifah di bumi. Ia sering memberikan perumpamaan kepada sesama petambak bahwa satu pohon mangrove yang sehat mampu memproduksi oksigen bagi tiga orang manusia, sehingga menanam mangrove sama saja dengan menyedekahkan kehidupan bagi sesama.

Meski demikian, perjuangan Jufri sebagai petambak tradisional tidaklah mudah karena ia harus menghadapi hama ulat bulu yang sering menyerang bibit muda di bawah usia dua tahun. Tanpa menggunakan racun kimia yang mahal dan merusak lingkungan, ia dengan telaten menyiram bibit-bibit tersebut menggunakan air tambak secara manual, sebuah bukti dedikasi tulus seorang pejuang lingkungan di garis depan.
Jufri mengakui bahwa masih ada tantangan besar berupa minimnya dukungan teknis dan insentif dari pemerintah bagi petambak yang berkomitmen melakukan konservasi secara mandiri. Ia bermimpi suatu saat pemerintah daerah bisa meniru kebijakan di luar negeri yang memberikan apresiasi nyata bagi petambak yang memelihara mangrove, sehingga semangat pelestarian ini bisa menular ke seluruh pelosok Kalimantan Utara.
Keresahan juga dirasakan Jufri saat kebijakan penganggaran yang diharapkan mampu mendukung kelompok petambak justru sering terkendala birokrasi dan aturan yang tumpang tindih. Baginya, petambak butuh bimbingan nyata dan kepastian regulasi agar mereka tidak merasa berjalan sendirian dalam menjaga benteng hijau yang melindungi pesisir dari ancaman abrasi dan bencana tsunami.
Melalui momentum Hari Lahan Basah, Jufri mengajak seluruh rekan petambak untuk tidak lagi membinasakan mangrove demi perluasan lahan yang bersifat sementara. Ia berharap kesadaran kolektif ini tumbuh dari hati, agar harmoni antara mencari nafkah dan merawat alam dapat terus terjaga, demi memastikan masa depan yang lebih hijau bagi anak cucu yang akan mewarisi kekayaan laut ini. (Andrey R)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....