Penguatan Literasi dan Bahasa Daerah di Kaltim
- 03 Feb 2026 16:49 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) resmi memetakan arah kebijakan baru dalam penguatan literasi dan perlindungan bahasa. Melalui evaluasi kinerja tahun 2025, Balai Bahasa Kaltim menegaskan komitmennya untuk melanjutkan empat program prioritas yang menjadi fondasi pembangunan peradaban di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara pada tahun 2026.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Kaltim, Asep Juanda, menjelaskan dalam program Odah Bekesah, langkah ini merupakan ikhtiar untuk memastikan bahasa Indonesia tetap bermartabat di tengah tantangan global. Menurutnya, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada konsistensi evaluasi yang telah dilakukan sepanjang tahun sebelumnya.
Fokus pertama adalah penguatan literasi baca-tulis yang menyasar berbagai lapisan masyarakat. Balai Bahasa melihat bahwa kemampuan literasi bukan sekadar kecakapan membaca, melainkan alat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Program ini akan diperluas jangkauannya ke sekolah-sekolah dan komunitas kreatif di Kalimantan.
Program selanjutnya berkaitan dengan revitalisasi bahasa daerah. Mengingat Kalimantan Timur memiliki kekayaan bahasa asli yang beragam, upaya perlindungan agar bahasa-bahasa tersebut tidak punah menjadi prioritas yang mendesak untuk dilaksanakan secara masif pada tahun 2026.
"Di Kaltim ada 16 bahasa daerah. Tahun 2025 kami merevitalisasi lima bahasa secara bertahap ya. Ada bahasa Kutai, Paser, Kenyah, Tidung dan Bulungan. Untuk tahun 2026 rencananya akan ditambah satu bahasa lagi," ujar Asep Juanda kepada Pro 4 RRI Samarinda.
Selain literasi, internasionalisasi bahasa Indonesia (BIPA) juga menjadi pilar penting. Seiring dengan pesatnya pembangunan di Kalimantan, posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi di tingkat internasional terus didorong melalui berbagai pelatihan dan pengujian standar kemahiran bagi penutur asing.
Asep Juanda menekankan bahwa seluruh pencapaian ini tidak bisa diraih sendirian oleh Balai Bahasa. Diperlukan sinergi yang kuat dengan berbagai lembaga pendidikan, media massa, dan pemerintah daerah guna menciptakan ekosistem kebahasaan yang sehat dan berkelanjutan.
Sebagai penutup di siaran Odah Bekesah, Asep menegaskan harapannya, "Bahasa Indonesia yang bermartabat, bahasa daerah yang lestari, dan sastra yang hidup adalah modal utama kita dalam membangun peradaban serta mencerdaskan kehidupan bangsa," ucapnya dengan penuh optimisme.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....