Fenomena Self Reward, Menyeimbangkan Kepuasan Diri dan Kepedulian Sosial
- 14 Mar 2026 22:32 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong – Tren self reward, yaitu kebiasaan memberi hadiah atau penghargaan kepada diri sendiri setiap kali mencapai suatu pencapaian, semakin digemari dan menjadi gaya hidup yang populer di kalangan masyarakat modern. Meski bersifat positif untuk menjaga motivasi, fenomena ini perlu disikapi secara bijak agar tidak mengurangi kepedulian sosial, karena dalam ajaran Islam, berbagi dianjurkan dalam berbagai kondisi, baik saat lapang maupun saat terbatas.
Direktur Masjid Kapal Munzalan Kubu Raya, Al-Ustadz Abu Hasan menekankan bahwa konsep self reward seharusnya tidak membuat seseorang melupakan kewajiban berbagi kepada sesama. Ia menilai kepedulian sosial adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan seorang muslim, sekaligus sarana membangun empati dan solidaritas di tengah masyarakat.
“Menunggu kaya baru berbagi merupakan konsep yang kurang tepat dalam Islam. Justru orang yang mampu berbagi saat kondisi sempit itulah yang memiliki nilai luar biasa,” ujarnya dalam Obrolan Tauladan Pro 2 RRI Sanggau, Kamis, 12 Maret 2026.
Abu menjelaskan bahwa berbagi tidak selalu diukur dari besar kecilnya harta atau melimpahnya materi yang diserahkan, tetapi yang paling utama adalah niat yang tulus dan kepedulian yang nyata terhadap sesama. Sejatinya niat memberi dengan tulus dan kepedulian terhadap sesama itulah yang menjadi kunci utama keberkahan, membuat setiap pemberian tidak hanya bernilai duniawi tetapi juga menjadi investasi spiritual yang abadi bagi pemberinya.
“Bukan seberapa banyak yang kita beri, tetapi seberapa besar kepedulian kita untuk berbagi. Orang yang berbagi dalam keadaan sempit justru menunjukkan keimanan yang kuat,” jelasnya.
Menurutnya setiap harta yang dimiliki manusia pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Bagaimana seseorang memperoleh, mengelola, dan membagikan hartanya akan menjadi bagian dari pertanyaan yang harus dijawab di akhirat, sehingga setiap harta yang disalurkan dengan niat ikhlas menjadi amal yang terus memberi pahala.
“Harta yang benar-benar kita bawa adalah yang kita zakatkan dan sedekahkan. Sedangkan harta yang hanya ditumpuk dan dinikmati sendiri sebenarnya tidak ikut bersama kita di akhirat,” katanya.
Menurut Abu Hasan dengan berbagi, masyarakat tidak hanya saling membantu tetapi juga membangun rasa kebersamaan, solidaritas, dan harmoni, sehingga tercipta ikatan sosial yang kuat dan kehidupan komunitas yang lebih seimbang. Ia berharap masyarakat dapat menyeimbangkan kebutuhan pribadi dengan kepedulian sosial, sehingga gaya hidup modern tetap berjalan seiring dengan nilai-nilai kebaikan dan keberkahan dalam Islam.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....